Banyaknya
pengaduan dan keluhan konsumen baik terhadap bahasa “Iklan” yang digunakan
perusahaan telepon seluler tertentu yang tidak sesuai dengan fakta, juga
terhadap layanan penyelenggara telekomunikasi cq. operator layanan seluler,
yang telah menimbulkan beragam opini.
6.02.2012
5.31.2012
Berusaha lah Mendengarkan...!!
Dari Judulnya memang terkesan simpel dan mungkin ada yang beranggapan bahwa ini artikel bagi orang tua yang mempunyai anak balita yang masih dalam tahap pertumbuhan belajar mendengar. ada benarnya anggapan yang seperti itu. tapi kali ini saya tidak membahas pertumbuhan balita dalam proses belajar mendengar, akan tetapi lebih kepada proses komunikasi yang terjadi pada orang dewasa yang tanpa kita sadari kadang kala kita tidak begitu menganggap terlalu penting. kita bisa bayangkan berapa orang yang gagal dalam mecapai tujuan hanya karena komunikasi tidak lancar, khususnya berapa banyak mereka yang gagal hanya karena tidak mau mendengarkan?
Labels:
human resources,
Manajemen,
Psycology
5.30.2012
Memotivasi Diri Sendiri
Ketika kita mengalami suatu keadaan yang sangat sulit untuk kita tentu saja kita memerlukan motivasi pada diri kita untuk bangkit, dan meneruskan perjalanan untuk mencapai tujuan kita. motivasi bisa didapat dari luar diri kita dan dari dalam diri kita sendiri. motivasi yang didapat dari luar pada zaman sekarang telah banyak advice para motivator handal. disamping motivasi dari luar diri kita sendiri, kita juga perlu memotivasi diri kita sendiri.
Labels:
ARTICLES,
human resources,
Psycology
11.14.2011
Apa itu Manager ??
Dilihat dari judul artikel ini kita langsung diberi pertanyaan. jangan kapok dulu baca artikel ini !!. memang tampak simpel dan membosankan. banyak orang tanpa harus berpikir ekstra langsung dapat menjawab pertanyaan itu. ada yang menjawab bahwa manager itu adalah pemimpin, atasan, ketua, direktur, camat, Bupati, Gubernur, Kepala Keluarga dan banyak lagi jawaban yang dianggap relevan dengan istilah "Manager".
Jawaban kebanyakan orang seperti diatas, ada benarnya, dimana manager itu yaitu pemimpin, atasan yang mengelola sesuatu menjadi lebih baik dan lebih teratur, termasuk juga diantaranya kepala rumah tangga.
Secara simpel memang pengertiannya bisa dikatakan begitu. Tetapi banyak orang yang belum mengerti tentang pengertian manaer itu sendiri bahkan tidak sedikit manger itu sendiri sebagai pelaku di dunia nyata belum sadar dan mengerti tentang pengertian mendalam tentang manager.
Di dalam buku "Leadership Skill for Managers" karangan Jhon Woods. mempertanyakan "What is Manager????". dia mendifinisikan sebagai berikut :
"The classic definition of a manager is one who gets done through other people. You may be planning, directing, controlling, hiring, delegating, assigning, organizing, motivating, disciplining, or doing any number of other things managers do on a daily basis. No matter what you do, though, you are working toward a goal by helping others do their work".
Dari pernyataan di atas dapat diartikan bahwa manager itu adalah seseorang yang mengerjakan dan menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan orang lain. Bisa melalui perencanaan, mengendalikan, memimpin, mendelegasikan, mempekerjakan, memotivasi dan mendisiplinkan.
Anda bisa dikatakan manager apabila :
1. You direct the work, rather than perform it.
Seorang Manager tidaklah harus menghandle / mengambil alih dan mengerjekan semua pekerjaan. Dia cukup memerintahkan, mengarahkan dan mengendalikan. Tidak sedikit Manager yang harus turun tangan dalam mengerjakan sesuatu yang tingkat kestrategisan pekerjaan pada level bawahan. Orang seperti ini lebih suka mengerjakan sendiri daripada mendelegasikan kepada bawahan. Bahkan ada seorang manager yang harus menyingsingkan lengan baju dalam mengerjakan pekerjaan yang sifatnya urgent. Dia lupa bahwa dia dikontrak untuk mengelola bawahan dalam bekerja "Bukan sebagai staff".
2. You have responsibilities for hiring, firing, training, and disciplining employees.
Pengembangan staf merupakan peran penting dari pekerjaan Manager. Pengembangan tersebut sering berpengaruh terhadap loyalitas karyawan yang akan memilih tetap bertahan pada suatu perusahaan atau memilih meninggalkan perusahaan dengan oportunities yang lebih baik dan bagus. Anda harus bisa mengelola jenjang karir karyawan.
3. You exercise authority over the quality of work and the conditions under which it is performed
Sebagai manager, Bawahan adalah tanggung jawab anda. Anda harus memastikan lingkungan yang aman untuk bekerja bagi mereka dan senantiasa mendeteksi ancaman-ancaman yang akan timbul dan cara penanganan ataupun pencegahan timbulnya ancaman tersebut.
4. You serve as a liaison between employees and upper management.
Manager memiliki banyak peran. bisa sebagai polisi, psikolog, pelatih, menteri diplomat dan utusan. Dalam peran ini anda sebagai penghubung antara mereka yang bekerja dan mereka yang membutuhkan dan memanfaatkan pekerjaan itu. untuk memastikan pekerjaan berjalan dan selesai secara efektif dan efisien.
5. You motivate employees and contribute to a culture of accomplishment.
Jika Anda benar-benar berkomitmen untuk pekerjaan Anda sebagai manajer, maka Anda menyadari kebutuhan untuk memotivasi, untuk menanamkan kebanggaan, untuk menciptakan iklim di mana inovasi dapat berkembang.
Jika anda telah melaksanakan ke lima point di atas, maka anda dapat dikatakan sebagai "The Real Manager"
"Semoga Sukses"
Labels:
ARTICLES,
human resources,
sosial/Humanity
Hilangnya Peran Motivasi dan Kemampuan (ability) dalam meningkatkan kinerja
Motivasi merupakan keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan suatu individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.
Pada dasarnya, Motivasi karyawan dapat berpengaruh terhadap kinerja karyawan,dimana semakin tinggi motivasi yang dimiliki karyawan dalam mencapai suatu tujuan perusahaan, maka semakin tinggi pula kinerja yang dicapai karyawan, demikian pula sebaliknya.
Kemampuan (ability) juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja, semua orang mungkin sepakat bahwa semakin tinggi kemampuan karyawan, maka semakin tinggi juga kinerjanya. demikian pula sebaliknya jika kemampuan karyawan rendah maka kinerjanya akan rendah.
Jika perumpamaan pada perusahaan memiliki karyawan yang bermotivasi dan berkemampuan tinggi, tentu banyak orang yang beranggapan bahwa tentu kinerja akan meningkat/tinggi.
Sebenarnya keadaan tersebut tidak serta merta dapat meningkatkan kinerja jika Persepsi Peran tidak jelas.
seorang karyawan yang tidak tahu (karena memamang tidak dijelaskan oleh atasan) akan perannya didalam suatu organisasi atau perusahaan lama kelamaan akan menyebabkan menurunnya motivasi dalam mencapai tujuan organisai dan perusahaan serta dapat menyebabkan menurunnya kemampuan karyawan dalam bekerja, jika keadaan tersebut berlangsung lama yang pada akhirnya dapat menyebabkan menurunnya kinerja karyawan.
Hal ini bisa diumpamakan bahwa meskipun perusahaan mempekerjakan karyawan dengan IQ diatas rata-rata, predikat cumlaude dari universitas pavorite, memiliki motivasi tinggi tetapi managernya dalam suatu perusahaan tidak menjelaskan peran dan yang harus dikerjakan juga akan menyebabkan menurunnya kinerja karyawan tersebut.
"Motivasi Perlu, Kemampuan (ability) itu Penting,
Persepsi Peran itu Tidak Kalah Penting"
9.14.2011
Training karyawan. Tanggung jawab siapa??
Training karyawan merupakan bagian terpenting dalam upaya pengembangan dan maintenance karyawan. tanpa training pada karyawan, juga dapat mengakibatkan stagnan dan menurunnya ability dan kapabilitas karyawan, yang tentu saja berdampak pada performance karyawan dan perusahaan.
Dalam pengamatan saya, masih sangat banyak karyawan yang mendapatkan training kurang dari 8 jam per tahun. Banyak juga yang hanya 2 jam. Bahkan mereka yang sudah bekerja selama bertahun-tahun banyak sekali yang tidak mendapatkan training sama sekali. Mobil Anda, pasti membutuhkan perawatan setiap 20,000 kilometer. Ganti oli setiap 5,000 kilometer. Dan tambahan tekanan angin pada ban kapanpun dibutuhkan. Orang-orang yang Anda pimpin kira-kira membutuhkan perawatan serupa itu. Setiap bulan, mereka membutuhkan lebih dari sekedar gaji. Mereka juga butuh penyegaran bagi jiwanya, motivasi yang mengobarkan semangatnya. Pencerahan yang mampu menumbuhkan optimisme didalam dirinya. Jika Anda merasa tidak memiliki cukup training budget ntuk mengirimkan semua karyawan ke ruang-ruang training yang mahal, Anda tenang saja. Bukan hanya Anda yang mengalami hal itu. Semua atasan mengalami masalah serupa. Ada sih atasan yang tidak pusing. Yaitu, atasan yang tidak begitu memikirkan program pengembangan bagi anak buahnya. Apakah Anda termasuk atasan yang peduli pada pengembangan anak buah?
Para pemimpin dituntut untuk bisa melakukan suatu program pengembangan yang sesuai dengan kondisi yang ada. Lakukan training dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. mulailah dengan mempraktekkan 5 kemampuan "Natural Intelligence" berikut ini :
1. Mulailah dengan hal-hal yang sederhana.
Kerumitan kita dalam berpikir sering berdampak buruk kepada tindakan yang kita ambil. Banyak orang yang masih mengira bahwa training adalah urusan yang rumit. Padahal training bagi bawahan Anda itu memiliki tingkatan-tingkatannya dari yang sangat sederhana hingga hal yang sangat rumit. Lupakan hal-hal yang rumit jika Anda sudah lama tidak mentraining anak buah Anda. Mengapa? Karena mereka yang sudah lama tidak ditraining – hampir pasti – memiliki agenda penting untuk membenahi hal-hal sederhana. Contohnya; perhatikan jika beberapa anak buah Anda sering terlambat masuk kantor. Atau, perhatikan jika mereka masih sering mengambil waktu istirahat lebih banyak dari seharusnya. Atau, mereka masih mengulangi pekerjaan karena kesalahan yang tidak perlu. Hal-hal sederhana seperti itu bisa jadi merupakan agenda penting untuk ditangani. Training yang Anda lakukan untuk mereka bisa mulai dari hal-hal aktual seperti itu. Dan untuk melakukannya, Anda tidak membutuhkan Professional Trainer, anda bisa melakukannya sendiri at no cost at all.
2. Fokuslah kepada pemberdayaan.
Training terbaik menurut pendapat saya adalah; training yang mampu meningkatkan kesadaran peserta untuk memberdayakan diri mereka sendiri. Bukan training yang mahal. Bukan training yang rumit. Bukan training yang dibawakan oleh orang-orang terkenal. Siapa yang memberi training menjadi tidak terlalu penting, selama dia bisa membuka kesadaran itu. Pilihlah topik training atau materi diskusi soft skills yang mendorong pemberdayaan diri untuk mendampingi training-training technical skills yang Anda berikan. Mengapa? Banyak orang yang sudah terampil bekerja, tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja secara maksimal. Banyak orang yang mampu, tetapi tidak percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Dan banyak orang yang sudah dewasa namun masih suka menggandoli atasannya untuk suatu urusan yang seharusnya sudah bisa diselesaikannya sendiri. Bukankah prinsip kepemimpinan itu adalah mendapatkan hasil dengan cara mengoptimalkan efek dari pekerjaan orang-orang yang kita pimpin? Jika demikian, maka pemberdayaan diri anak buah kita menjadi salah satu faktor paling penting untuk mewujudkannya. So, fokuslah kepada pemberdayaan.
3. Pertimbangkanlah minat mereka.
Sesekali Anda boleh menanyakan kepada anak buah Anda; Topik training apa sih yang mereka inginkan? Banyak atasan yang mengira bahwa apapun yang dipikirkannya pasti cocok untuk anak buahnya. Dulu, saya pernah begitu. Dan ternyata saya keliru. Saya baru menyadarinya ketika mengajukan pertanyaan diatas kepada mereka. Hal itu juga membantu saya ‘menemukan’ topik yang tepat untuk mereka. Lebih dari itu, juga membantu saya mendapatkan komitmen mereka. Selama topik itu bisa memperkaya jiwa mereka, menambah energy positif mereka, meningkatkan wawasan mereka; ya hayu-in aja. Percayalah, Anda tidak akan pernah rugi mendengarkan mereka. Bahkan, Anda bisa meminta salah satu dari mereka itu yang menjadi narasumbernya. Hah?! Benarkah? Sungguh, jabatan sebagai atasan tidak menjadikan kita tahu segalanya. Dan posisi mereka sebagai bawahan tidak berarti ilmunya tidak mumpuni. Tidak percaya? Coba saja buktikan sendiri. Anda akan belajar banyak hal dari mereka. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Saat mengembangkan mereka, kita sendiripun ikut berkembang pula.
Sungguh, begitu banyak training hebat yang ilmunya menguap segera setelah peserta keluar dari ruang training. Begitu banyak modul tebal yang sama sekali tidak bisa diimplementasikan. Jika Anda meragukan apa yang saya katakan, silakan cek; sebagai atasan apakah Anda pernah mengikuti training seharga ribuan dollar atau puluhan juta? Jika ya, cek lagi, berapa persen dari ilmu mahal yang Anda pelajari itu benar-benar diimplementasikan? Percayalah, saya sendiri pernah begitu. Maka kriteria lain dari training yang berhasil adalah ketika ada perubahan perilaku dan cara bekerja setelah mengikuti training. Soal ini juga tidak terlalu dipengaruhi oleh trainernya. Undanglah trainer yang terbaik dikelasnya menurut penilaian Anda (bukan menurut klaim trainernya). Lalu biarkanlah anak buah Anda yang sudah ikut training itu tanpa Anda intervensi. Maka saya yakin, sehebat apapun trainer dan trainingnya, para peserta tidak akan secara voluntary mengimplementasikannya dalam aktivitas kerja sehari-hari. Mereka hanya akan mengimplementasikannya, jika dan hanya jika sebagai atasannya; Anda mengkondisikan dan memastikan adanya proses implementasi.
5. Jagalah konsistensi iramanya.
Ingatlah kembali mobil Anda yang membutuhkan perawatan rutin dan berkala. Hanya dengan kedisiplinan dan menjaga konsistensi perawatannya saja Anda akan bisa menjaga performanya. Begitu pula dengan kualitas kerja orang-orang yang Anda pimpin. Butuh konsistensi dalam pengembangan dan penyegaran pribadinya agar Anda mendapatkan hasil optimal. Bahkan oli mesin terbaik pun harus dikuras, lalu diganti lagi dengan yang baru. Begitu pula dengan motivasi dan moral kerja anak buah kita. Harus selalu kita ganti dengan yang baru dan lebih menyegarkan. Jika tidak, maka mereka akan mengalami keausan dalam mesin kinerjanya. Anda pun kehilangan performanya. Setiap 5,000 kilometer, oli mesin Anda diganti. Setiap bulan, karyawan Anda pun membutuhkan penyegaran tanpa harus selalu bergantung kepada berbagai keterbatasan. Percayalah, saya pernah berada pada posisi seperti Anda. Soal ini, saya berani katakan; “ANDA BISA!”, Insya Allah.
Mari sekali lagi kita perhatikan ke-5 hal diatas. Anda bisa melakukan semuanya. Meskipun Anda tidak sanggup mengundang trainer eksternal ke ruang kelas Anda. Caranya? Banyak. Sesekali, Anda sendiri yang harus tampil didepan kelas. Anda bisa menunjuk seorang staf untuk berbagi ilmu kepada teman-temannya. Anda bisa meminta kepala departemen lain untuk mengisi acara di team Anda. Atau, Anda juga bisa MENGGUNAKAN salah satu artikel yang saya tulis untuk dibahas didalam kelas. Silakan lho, dibayar pakai doa pun sudah lunas. Anda bisa melakukannya dengan mengoptimalkan sumber daya internal yang ada. Janganlah lagi menjadikan keterbatasan budget training sebagai alasan untuk menihilkan proses pelatihan bawahan Anda. Berhentilah berangan-angan untuk selalu mengundang pembicara dari luar. Fungsi Trainer Profesional itu seperti ‘pemeran pembantu’ dalam sebuah film. Sedangkan Anda, adalah pemeran utamanya. You are the movie star! Memang banyak manfaatnya untuk mengundang trainer dari luar. Tetapi percayalah, diluar sana tidak ada trainer yang bisa menggantikan Anda sebagai pemeran utama dalam film berjudul; “GROW YOUR PEOPLE!”
"Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil alih tanggung jawab pengembangan anak buah kita, selain kita sendiri sebagai atasannya."
sources : Dadang Kadarusman on LinkedIn
9.13.2011
Keharusan Memuliakan bawahan
Coba perhatikan baik-baik, apakah ada yang aneh dengan judul artikel ini? Sekalipun tidak terlalu aneh, tetapi tidak lazim. Saya sendiri tidak pernah mendengar nasihat atau kuliah kepemimpinan yang membicarakan topik tentang memuliakan bawahan. Kata-kata itu meluncur begitu saja seolah ada tangan yang sengaja menjatuhkannya dari langit lalu secara akurat mendarat diatas kepala saya yang nyaris plontos. Tanpa ada yang menghalangi, dia merasuki otak saya lalu mencair dan mengalir melalui seluruh jaringan syaraf menuju ke sekujur tubuh saya. Seolah terkena sengatan setrum listrik, seluruh sel didalam setiap organ tubuh saya tertegun. Mengapa harus memuliakan bawahan?
Jika Anda bertemu orang yang jabatannya lebih tinggi; sangat mudah menghormati mereka. Tetapi, sungguh sangat sulit untuk menghormati bawahan. Jika Anda bertemu dengan pelanggan, maka Anda bersikap seramah mungkin kepada mereka, bukan? Anda melayani apapun yang diinginkannya dengan wajah penuh senyum dan semangat keikhlasan yang paling tinggi sampai pelanggan itu pulang. Setelah itu, Anda kembali ke ruang kerja dimana disepanjang koridor yang Anda lintasi ada banyak anak buah dilewati. Selama melintas itu sebagai atasan merasa memiliki derajat yang lebih tinggi karena memang kita ini adalah bos. Anda tidak demikian? Bagus sekali. Sekarang, tinggal bagaimana melakukannya secara konsisten. Dan untuk bisa konsisten, kita perlu terus melatih diri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memuliakan bawahan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
1. Tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa. Coba ingat-ingat kembali suasana ketika beberapa orang yang Anda pimpin tidak masuk kantor karena sakit, atau cuti, atau alasan lainnya. Bagaimana Anda menangani tugas-tugas yang mereka tinggalkan? Apakah Anda bisa memperoleh data-data yang diperlukan secepat seperti bisanya? Apakah team Anda bisa menyelesaikan penugasan sama banyaknya? Apakah group Anda bisa meraih pencapaian yang sama tingginya? Apakah Anda bisa melayani pelanggan yang sama banyaknya? Setinggi apapun jabatan kita, tidak memiliki banyak makna tanpa kehadiran orang-orang yang kita pimpin yang selama ini menentukan keseluruhan kinerja yang kita raih. Itu membuktikan bahwa tanpa mereka, kita ini bukan siapa-siapa.
2. Pelangganpun tidak lebih penting dari bawahan. Apakah pelanggan penting? Tidak diragukan lagi. Lantas, apakah bawahan kita sedemikian pentingnya? Oh, itu benar, meski belum disadari banyak atasan. Sekarang, bayangkan seandainya orang-orang yang kita pimpin tersakiti hatinya oleh perilaku kita. Dapatkah mereka melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya? Jika suatu saat Anda mendatangi suatu kantor, lalu orang di kantor itu memperlakukan Anda sebagai pelanggan dengan cara yang tidak patut; maka bisa dipastikan jika orang itu tidak diperlakukan dengan baik oleh atasannya. Sungguh, perilaku melayani pelanggan dengan buruk seperti itu pulalah yang akan diterapkan oleh anak buah kita jika sebagai atasan kita tidak memperlakukan mereka dengan baik. Jadi meskipun pelanggan itu penting, mereka tidak lebih penting dari bawahan untuk kita muliakan dengan sama baiknya.
3. Merekalah yang paling berjasa pada karir kita. Selama bekerja, saya mengalami kenaikan jabatan yang relatif cepat. Selama itu pula saya menganggap bahwa saya ini orang yang hebat. Terbukti dengan tangga karir saya yang terus melesat. Padahal, tidak ada satupun pencapaian karir yang benar-benar kita raih sendiri. Jika jabatan Anda naik lagi, itu tentu karena prestasi kepemimpinan Anda pada posisi sebelumnya. Tetapi coba perhatikan sekali lagi, bagaimana Anda bisa meraih semua pencapaian itu? Bukankah semua terjadi karena kerja keras orang-orang yang Anda pimpin? Jadi jika ada orang yang paling berjasa dalam memajukan karir Anda, maka para bawahan Anda adalah orangnya.
4. Sumber kerendahan hati yang tinggi. Jika kita santun kepada orang yang lebih tinggi, maka itu sama sekali bukanlah ciri kerendahan hati. Itu bisa dengan mudah dilakukan baik dengan sukarela ataupun terpaksa. Tetapi, santun kepada orang-orang yang lebih rendah merupakan tantangan kelas tinggi. Kenapa gue mesti sopan pada anak buah? Untuk sekedar sopan saja rasanya kok tidak logis, ya? Apalagi untuk melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Maka menjelmalah hidup kita menjadi ironi bagi ilmu padi; semakin berisi, semakin merunduk. Kita? Semakin berisi, semakin tinggi hati. Entah mengapa. Yang jelas, begitu kita naik jabatan, rasanya derajat kita memang sudah lebih tinggi dari mereka. Lalu kita dibisiki oleh kata hati dan perilaku yang merendahkan. Padahal, rendah hati kepada mereka menunjukkan budi pekerti yang tinggi.
5. Bukan ‘melayani atau dilayani’, tapi ‘saling melayani’. Kepemimpinan egaliter dicirikan oleh adanya kesamaan derajat dan harkat martabat antara atasan dengan bawahannya. Banyak pemimpin yang lupa melayani, karena memposisikan dirinya untuk terus dilayani. Meski sudah menjadi tugas bawahan untuk melayani atasannya, tetapi atasannya juga berkewajiban untuk melayani kebutuhan dan hak-hak para bawahan. Kita sering merasa sudah menjadi pemimpin yang baik. Padahal tak seorang pun bisa menjadi pemimpin yang baik seperti klaim pribadinya jika tidak mau melayani bawahannya. Apakah Anda pernah mendengar sekelompok bawahan yang mengajukan mosi tidak percaya kepada atasannya? Atau sekedar tidak menaruh rasa hormat? Itu adalah indikasi bahwa kemuliaan seorang atasan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk memuliakan bawahannya. Mengapa? Karena atasan dan bawahan ada untuk saling melayani.
Jika hari ini Anda masuk kantor dan bertemu dengan bawahan Anda, maka cobalah ubah cara pandang Anda pada mereka. Mulai sekarang, posisikan diri Anda setara dengan mereka, dan mulailah untuk lebih banyak melayani mereka. Selama ini, mereka sudah banyak melayani Anda. Saatnya Anda untuk membalas semua pelayanan mereka dengan kemuliaan yang Anda bangun untuk mereka. Percayalah, orang-orang yang Anda pimpin itu akan secara refleks dan sigap membalas perlakuan agung Anda kepada mereka dengan pelayanan dan kesetiaan yang jauh lebih tinggi dari mereka. Dan Anda, akan menjadi pemimpin yang bukan sekedar ditakuti, dipatuhi atau diikuti. Anda, akan menjadi pemimpin yang mereka rindukan dan cintai.
sources : By Dadang Kadarusman on LinkedIn
9.11.2011
Why Customer Relationship Care is Better than Customer Relationship Management
Why Customer Relationship Care is Better than Customer Relationship Management
The relationship between company and customer isn’t complicated from the customer’s point of view. All the company needs to do is provide service. The type of service varies depending on the type of business, but the need remains the same: Quality service in a timely manner at a reasonable price.
The relationship between company and customer isn’t complicated from the customer’s point of view. All the company needs to do is provide service. The type of service varies depending on the type of business, but the need remains the same: Quality service in a timely manner at a reasonable price.
Definition of Marketing Objectives, Goals, Strategies and Tactics
Definition of Marketing Objectives, Goals, Strategies and Tactics
What is the difference between a marketing goal, strategy or tactic for a marketing plan? Basic definitions of marketing terms are explained with examples.
What is the difference between a marketing goal, strategy or tactic for a marketing plan? Basic definitions of marketing terms are explained with examples.
Langganan:
Postingan (Atom)