Tampilkan postingan dengan label Kumpulan karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan karya Sastra. Tampilkan semua postingan

4.07.2009

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

menurut Masnur Muslich[*]

Penelusuran perkembangan bahasa Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu bertulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bahasa Melayu di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasasti itu mengungkapkan sesuatu yang menggunakan bahasa Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasa Melayu.

Nama-nama prasasti adalah:

(1) Kedukan Bukit (683 Masehi),

(2) Talang Tuwo (684 Masehi),

(3) Kota Kapur (686 Masehi),

(4) Karang Brahi (686 Masehi),

(5) Gandasuli (832 Masehi),

(6) Bogor (942 Masehi), dan

(7) Pagaruyung (1356) (Abas, 1987: 24)

Prasasti-prasasti itu memuat tulisan Melayu Kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta.

- Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di tepi Sungai Tatang di Sumatera Sedlatan, yang bertahun 683 Masehi atau 605 Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang memuat nama Sriwijaya.

- Prasasti Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka, menjelaskan tentang konstruksi bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas perintas Hyang Sri-Jayanaca sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri. Prasasti ini juga memuat berbagai mantra suci dan berbagai doa untuk keselamatn raja.

- Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangsa dan prasasti Karang Brahi di Kambi, keduanya bertahun 686 Masehi atau 608 Saka, isinya hampir sama, yaitu permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan kerajaan Sriwijaya, agar menghukum para penghianat dan orang-orang yang memberontak kedaulatan raja. Juga berisi permohonan keselamatan bagi mereka yang patuh, taat, dan setia kepada raja Sriwijaya.

Jika berbagai prasasti tersebut bertahun pada zaman Sriwijaya, bisa disimpulka bahwa bahasa Melayu Kuno pada zaman itu telah berperan sedbagai lingua franca. Atau, ada kemungkinan sebagai bahasa resmi pada zaman Sriwijaya. Kesimpulan ini diperkiat oleh keterangan I Tsing tentang bahasa itu bahwa bersama dengan bahasa Sanskerta, bahasa Melayu (diistilahkan Kw’en Lun) memegang peranan penting di dalam kehidupan politik dan keagamaan di negara itu (Sriwijaya).

Selain berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan sumber informasi tentang asal-usul bahasa Melayu. Sejarah kuno negeri Cina turut membuktikan tentang keberadaan bahasa Melayu tersebut. Pada awal masa penyebaran agama Kristen, pengembara-pengembara Cina yang berkunjung ke Kepulauan Nusantara menjumpai adanya berbagai lingua franca yang mereka namai Kw’en Lun di Asia Tenggara. Salah satu di antara Kw’en Lun itu oleh I Tsing diidentifikasi di dalam Chronicle-nya sebagai bahasa Melayu.

Untuk keperluan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, Traktat London (Perjanjian London) 1824 antara pemerintah Inggris dan Belanda merupakan tonggak sejarah yang sangat penting. Sebab, pada traktat itu antara lain berisi kesepakatan pembagian dua wilayah, yaitu:

(1) Semenanjung Melayu dan Singapura besera pulau-pulau kecilnya menjadi kekuasaan kolonial Inggris; dan

(2) Kepulauan Nusantara (Kepulauan Sunda besar: pulau-pulau Sumatera, Jawa, sebagian Borneo/kalimantan, dan Sulawesi; Kepulauan Sunda kecil: pulau-pulau Bali, LOmbok, Flores, Sumbawa, Sumba, sebagian Timor, dan lain-lain; Kepulauan Maluku dan sebagian Irian) menjadi kekuasaan kolonial Belanda.

Oleh karena itu, perkembangan bahasa Melayu ini dapat dikelompokkan menjadi dua periode, yaitu (1) periode sebelumm Traktat London, dan (2) periode setelah Traktat London.

Perkembangan bahasa Melayu sebelum Traktat London

Perkembangan bahasa Melayu sebelum Traktat London ini dapat disistematisasikan ke dlam beberapa era, sub-era, dan periode seperti berikut:

1) Era Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 sampai dengan abad ke-11 Masehi)

2) Era Kerajaan-keraan Melayu (abar ke-12 sampai dengan abad ke-19 Masehi):

a) Sub-era Kerajaan Melayu Bintan-Tumasik (abad ke-12 sampai dengan abad ke-13 Masehi)

b) Sub-era Kerajaan Meayu Riau (abad ke-14 sampai dengan abad ke-19 Masehi):

(1) Periode Kerajaan Malaka (abad ke-14 sampai dengan abad ke-15 Masehi)

(2) Periode Kerajaan Johor (abad ke-16 sampai dengan abad ke-17 Masehi)

(3) Periode Kerajaan Riau-Lingga (abad ke-18 sampai dengan abad-19 Masehi)

3) Era Pemisahan Tahun 1824

Perkembangan bahasa Melayu sebagaimana disitematisasikan tersebut sangat berkaitan dengan perkembangan bahasa Melayu pasca Traktat London 1824, karena bahasa Melayu berkembanga menjadi tiga arah, yaitu:

(a) di Indonesia menjadi Bahasa Indonesia;

(b) di Malaysia menjadi BahasaMalaysia;

(c) si Brunei menjadi Bahasa Melayu Baku;dan

(d) di Singapura menjadi Bahasa Nasional.

Era Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 sampai dengan abad ke-11 Masehi)

Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya mengalami masa kejayaan relatif cepat oleh lokasinya yang sangat strategis pada Selat Malaka, suatu pusat perdagangan yang penting selama berabad-abad lamanya. Para saudagar dari timur dan barat serta dari Kepulauan Nusantara bertemu dan mengadakan transaksi dagang. Tentu saja bahasa Melayu, atau semacam bahasa Melayu kuno, menjadi bahasa para saudagar itu. Itulah sebabnya maka bahasa Melayu menjadi bahasa resmi Kerajaan Sriwijaya. (Humaidy, 1973 dan Alisjahbana dalam Fishman, 1974).

Dengan demikian, Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kegiatan hajat manusia dan pusat administrasi kerajaan dan daerah-daerah taklukannya. Sriwijaya juga merupakan pusat pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan. Abas (1987) mengulangi apa yang pernah ditulis oleh Gregoris F. Zaide, se

orang ahli sejarah Filipina terkemuka, mengenai kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada era itu:

The Empire of Sriwijaya (Sri-Vishaya) emerged from the ashes of the maritime colonialism of Pallawa from 8th ventury to 1377 AD. Founded by Hindunized Malays, it was basucally Malayan in might, Hindunistic in culture, and Buddhistic in religion. The empire was so named after the capital, Sri-Vishaya, Sumatra. At the height of its power under the Shailendra dynasty, it included Malaya, Ceylon, Borneo, Celebes, the Philippines, and part of Formosa, and probaly exercised sovereignty over Cambodia and Champa (Annam). (Zaide, 1950: 36)

Menurut Mees (1954) Sriwijaya mendirikan suatu perguruam tinggi Buddha yang mahasiswanya datang dari semua penjuru kawasan yang dikuasainya. Beberapa dari mahasiswa bahka datang dari kerajaan-kerajaan tetangga Champa dan Kamboja. Bahasa pengantar pada perguruan tinggi itu dan pusat-pusat pendidikan lainnya adalah bahasa melayu kuno atau lingua franca Kw’en Lun.

Era Kerajaan-keraan Melayu (abar ke-12 sampai dengan abad ke-19 Masehi):

Pemakaian bahasa Melayu yang dipengaruhi bahasa Sansekerta telah mendominasi Kerajaan Sriwijaya. Hal ini jelas terlihat pada berbagai inskripsi batu bertulis yang ditemukan pada berbagai tempat di Sumatra. Tetapi, dalam era berikutnya, yaitu era Kerajaan-kerajaan Melayu yang muncul dari abad ke-12 sampai dengan abad ke-19 Masehi, bahasa yang dipakai tidak lagi dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Raja-raja yang berkuasa pada saat itu berketurunan Melayu.

Era ini dapat dibagi menjadi dua sub-era, yaitu sub-era Kerajan Bintan dan Tumasik, dan sub-era Kerajaan Melayu Riau. Selanjutnya, sub-era Kerajaan Melayu Riau ini dibagi lagi menjadi tiga periode, yaitu periode Kerajaan Malaka, periode Kerajaan Johor, dan periode Kerajaan Riau dan Lingga. Sekali lagi, pembagian menjadi periode-periode ini sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.

Pada era Kerajaan-kerjaan Melayu ini, penyebaran bahasa Melayu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kedatangan orang-orang Eropa yang ikut mempergunakana bahasa Melayu sebagai lingua franca tidak hanya menmbantu penyebaran bahasa itu secara ekstensif melainkan juga menaikkan statusnya sebagai bahasa yang memiliki “norma supraetnik”, melebihi norma etnik bahasa-bahasa daerah lainnya yang ada di Kepulauan Nusantara.

Pigafetta yang mendampingi Magelhaens di dalam pelayarannya yang pertama mengelilingi dunia, misalnya, berhasil menyusun glosari pertama bahasa Melayu ketika kapalnya berlabuh di Tidore tahun 1521 Masehi. Glosari Pigafetta yang sederhana ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu yang berasal dari Indonesia bagian barat telah menyebar ke bagian timur Kepulauan Nusantara pada waktu itu. Bahkan, pada tahun 1865 pemerintah kolonial Belanda mengangkat bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kedua mendampingi bahasa Belanda. Hal ini mengisyaratkan bahwa peranan bahasa Melayu sebagai lingua franca tidak dapat diabaikan begitu saja.

Pada tahun 1581, Jan Huygen van Linschoten, seorang pelaut Belanda yang berlayar ke Indonesia, menulisa di dalam bukunya Itinerarium Schipvaert naar Oost ofte Portugaels Indiens bahwa bahasa Melayu adalah bahasa yang dipergunakan oleh banyak orang timur, dan bahwa barang siapa yang tidak mengerti bahasa itu akan berada dalam keadaan seperti orang Belanda (dari zaman yang sama) yang tidak mengerti bahasa Perancis. (Alisjahbana dalam Fishman, 1974: 393).

Pada akhir abad ke-17, sewaktu Francois Valentyn di Malaka, ia telah menulis buku berjudul Oud en Nievw Oostindien II Del V tentang bahasa Melayu. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa bahasa Melayu telah terbukti menjalankan fungsinya sebagai alat komunikasi dan lingua franca yang penting di Malaka. Valentyn seorang pendeta dan ahli sejarah berbangsa Belanda dalam penulisan buku sebanyak enam jilid itu menjelaskan sejarah dan skenario kota pelabuhan di Kepulauan Melayu. Sebagian penjelasannya adalah:

“Bahasa mereka, yaitu bahasa Melayu … bukan saja digunakan di pantai-pantai Tanah Melayu, melainkan juga di seluruh India dan di negeri-negeri sebelah timur. Di mana-mana pun bahasa ini dipahami oleh setiap orang. Bahasa ini bagaikan bahasa Perancis atau bahasa Latin di Eropa, atau senacan bahasa perantara di Itali atau di Levent. OLeh karena banyaknya bahasa ini digunakan,maka seseorang yang mampu bertutur dalam bahasaMelatu akan dapat dipahami orang baik dalam negeri Persia maupun Filipina.”

Sub-era Kerajaan Melayu Bintan-Tumasik (abad ke-12 sampai dengan abad ke-13 Masehi)

Segera setelah Kerajaan Bintan didirikan di Pulau Bintan keadaan memaksa raja memindahkan ibu kota kerajaannya ke Pulau Tumasik, letak Singapura sekarang. Beberapa tahun kemudian, Tumasik dikuasai oleh Kerajaan Majapahit dari Jawa. Ibu kota, sekali lagi, harus dipindahkan lagi ke Malaka di Semenanjung Malaya. Daerah-daerah tempat perpindahan ini masih termasuk daerah Riau. Bahasa Melayu dipergunakan di daerah itu sebagai bahasa ibu.

Diperkirakan bahwa perpindahan pusat kekuasaan itu terjadi antara tahun 1100 Masehi sampai dengan tahun 1250 Masehi. Sayang sekali tak ada catatan tertulis yang dapat dijadikan sumber acuan mengenai peran bahasa Melaytu selama sub-era Bintan-Tumasik ini. Jadi, apakah bahasa Melayu yang dipergunakan pada sub-era ini ada hubungannya dengan bahasa Melayu pada era Kerajaan Sriwijaya tidak dapat diketahui dengan pasti.

Banyak ahli bahasa dan orinentalis menganggap bahwa bahasa Medlayu era Kerajaan Sriwijaya adalah semacam bahasa Melayu kuno seperti yang ditunjukkan oleh berbagai inskripsi batu bertulis abad ke-7 Masehi. Junus (1969) bersikap agak ragu tentang hubungan antara bahasa Melayu kuno dengan bahasa Melayu Riau. Tetapi, dengan adanya bahasa Melayu Bintan-Tumasik yang merupakan suatu bentuk bahasa peralihan antara kedua bahasa itu, maka keraguan Junus hilang dengan sendirinya. Lebih-lebih apabila diingat asumsi yang mengatakan bahwa suatu bahasa kini merupakan perkembangan bahasa masa lampau. Dengan demikian, asumsi bahwa ada hubungan antara bahasa Melayu kuno dan bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya benar adanya.

Sub-era Kerajaan Meayu Riau (abad ke-14 sampai dengan abad ke-19 Masehi)

Untuk pembahasan ini kiranya perlu dibedakan dengan jelas antara bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya dan bahasa Melayu dari sub-era Keraan Riau. Seperti disinggung sebelumnya bahwa bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya sangat dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Karena sifat kekunoannya itu, banyak ahli bahasa menyebut bahasa pada era Kerajaan Sriwijaya itu sebagai bahasa Melayu Kuno. Sementara itu, bahasa Melatu pada sub-era Kerajaan Riau atau Kerajaan Melayu Riau sama sekali tidak sipengaruhi oleh bahasa Sansekerta dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Riau. Oleh sebab itu, bahasa ini disebut “bahasa-bahasa Melayu Riau”. Terdapat tiga periode dalam sub-era ini, seperti diuraikan berikut ini.

- Periode Kerajaan Malaka (abad ke-14 sampai dengan abad ke-15 Masehi)

Seperti telah dikatakan sebelumnya, tentara kerajaan Majapahit menyerang Kerajaan Tumasik yang memaksa pusat kekuasaannya dipindahkan ke Malaka di Semenanjung Malaya. Adat-istiadat dan bahasa yang dibawa dari Tmasik dipertahankan, dan mulai saat itu dan seterusnya bahasa Melayu Riau berkembang dan tersebar ke hampir seluruh penjuru Semenanjung Melaya.

Kerajaan Malaka berkibar selama hampir 100 tahun. Lokasinya yang berada di pintu gerbang Selat Malaka, yaitu rute lalu lintas pelayaran yang ramai dan penting yang menghubungkan antara Asia Timur dan Asia Barat, antara Asia Timur dan Eropa, antara Samudra India dan Laut Cina Selatan, dan antara Samudra India dan Samudara Pasifik, Malaka merupakan pelabuhan yang paling sibuk di kawasan Asia Yenggara pada waktu itu.

Pada peralihan abad ke-15, Malaka juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. Menjelmanya kota itu menjadi pusat penyebaran agama Islam. Winstedt (1917: 92) melukiskan sebagai berikut:

“Perlak and Pasai in North Sumatra were the first Malay Centers for the propagation of the Muhammadan faith and culture. At Pasai, in 1407 was buried Abdul’llah ibn Muhammad ibn Abdul’l-Kadir ibn Abdul’l-Azis ibn Al-Mansur Abu Ja’far al-Abbasi al-Muntasir, a missionary from Delhi of the house of the Abbasides who furnished Caliphs from the time of Prophet till it was destroyed by the Turks in 1258. Pasai converted Malaka, a center greater than itself.”

Dengan demikian, Malaka menjadi pusat dua kegiatan, yaitu perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran ajaran agama Islam. Sebenarnya, kedua kegiatan ini terlaksana secara bersamaan, sebab para guru dan penganjur agama Islam, dalam melaksanakan misinya itu, mengikuti perjalanan para pelaut dan pedagang, mempergunakan bahasa Melayu.

Pada tahun 1511, misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Pusat perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran ajaran agama Islam pindah ke Johor.

Meskipun Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama Kristen, namun peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu tetap berlangsung. Berkat orang Portugis, penggunaan bahasa Melayu tidak terbatas hanya di kawasan Asia Tenggara saja, melainkan meluas ke pusat-pusat perdagangan di India dan Cina Selatan. Sebagai bukti, Ar-Raniri, seorang pengarang dan teolog Islam yang lahir dan besar di India telah menguasai bahasa Melayu dengan baik ketika ia tiba di Aceh tahun 1637. Hal ini hanya mungkin apabila bahasa Melayu telah banyak dipergunakan di Gujarat pada masa itu (Alisjahbana dalam Fishman, 1974: 394).

Bahasa Melayu merambah jalannya juga ke benua Eropa dalam abad ke-16. Karena bahasa Malayulah yang dipergunakan oleh para raja atau pangeran Malayu ketika berkomunikasi dengan raja Portugis. Pada waktu yang sama, St. Francis Xavier mempergunakan bahasa Melayu untuk mengajak penduduk Maluku memeluk agama Kristen. Xavier sendiri mengatakan bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa yang dimengerti oleh hampir setiap orang.

- Periode Kerajaan Johor (abad ke-16 sampai dengan abad ke-17 Masehi)

Dengan ditaklukkannya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, kegiatan kerajaan itu dipindahkan ke Johor, suatu daerah di sebelah selatan Malaka di Semenanjung Malaya. Lokasinya tidak sebaik lokasi Malaka dalam hal pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu dan ajaran agama Islam.

Meskipun demikian, periode Kerajaan Johor telah menyumbangkan sesuatu yang amat berharga, yaitu mempertahankan bentuk bahasa Melayu Malaka. Di Malaka, nama bahasa Melayu Malaka masih tetap dipergunakan, tetapi unsur-unsur bahasa Portugis banyak ditambahkan ke dalam bahasa tersebut sehingga pantas disebut “bahasa pidgin”. Bahasa Melayu Malaka sebelum penaklukan Portugis sangat berbeda dengan bahasa Melayu Malaka setelah Malaka dikuasai Portugis. Bahasa Malayu Johorlah yang mempertahaknkan ciri-ciri khas bahasa Melayu Malaka sebelum penaklukan Portugis.

Bahasa Melayu Johor memegang peran penting di dalam penyebarluasan agama Islam ke bagian timur Kepulauan Nusantara. Kesusastraan Melayu dari abad ke-16, dan bahkan sampai abadke-17, sangat dipengaruhi oleh ajaran dan pemikiran Islam. Bahasa Melayu Johor sangat berjasa di dalam penyebaran ajaran agama Islam di Kepulauan Nusantara, bahkan di kawasan Asia Tenggara.

- Periode Kerajaan Riau-Lingga (abad ke-18 sampai dengan abad-19 Masehi)

Pada tahun 1719 Raja Kecil, dari Istana Kerajaan Johor, dipaksa memindahkan pusat kekuasaannya ke Ulu Riau, di Pulau Bintan, salah satu pulau yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Pemindahan ini merupakan permulaan dari suatu periode dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, yaitu periode Kerjaan Riau dan Lingga. Dalamperiode inilah bahasa Melayu memperoleh ciri ke-Riau-annya, dan bahasa Melayu Riau inilah yang merupakan cikal bakal bahasa Nasional Indonesia yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Periode Kerajaan Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, ketika didirikan oleh Raja Kecil, sampai dengan tahun 1913, ketika kerajaan itu dihapus oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya, ada tiga momentum yang penting sekali bagi perkembangan dan persebaran bahasa Melayu Riau, yaitu tahun 1808, ketika Raja Ali Haji lahir; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bukunya yang berjudul Bustanul Katibin, suatu tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau; dan tahun 1894, ketika percetakan Mathba’atul Riauwiyah atau Mathba’atul Ahmadiyah didirikan.

Pengoperasian percetakan Mathba’atul Riauwiyah ini sangat penting karena melalui buku-buku dan pamflet-pamflet yang diterbitkannya, bahasa Melayu Riau tersebar ke daerah lain di Kepulauan Nusantara. Yang lebih penting adalah usaha pembakuan bahasa Melayu Riau sudah dimulai.

Selama perang antara Perancis dan Inggris yang berlangsung di Eropa, yang berakibat Negeri Belanda sempat diduduki Perancis beberapa tahun, selama itu terjadi pula perang antara kekuasaan Inggris di Asia Tenggara dan kekuasaan Belanda yang tunduk kepada {emerintah Perancis di Kepulauan Nusantara.

Untuk beberapa tahun lamanya, 1819 – 1824, Pulau Jawa dan Pulau Sumatra diduduki Inggris. Salah seorang administratur Inggris yang ulung, yang pernah menjadi Gubernur Jenderal di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra, yaitu Stamford Raffles, mendirikan Singapura pada bekas kerajaan Tumasik pada tahun 1819.

Orang-orang Blanda datanga pertama kali ke Indonesia bertujuan untuk berdagang. Pada tanggal 20 Maret 1602 mereka mendirikan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) untuk melaksanakan perdagangan. VOC beroperasi di Indonesia selama hampir 200 tahun sampai tahun 1799, menyusul perusahaan itu direorganisasikan menjadi suatu pemerintahan kolonial. Belanda mulai menjajah Indonensia dengan memperoleh nama baru Nederlandsche OOst-Indie (India Belanda).

Di sinilah, Selat Malaka, di daratan Semenanjung Malaya, kekuasaan kolonial Inggris semakin mencekamkan kukunya. Setelah jatuh ke tangan Portugis, daerah Malaka ini semakin penting perannya sebagai pusat perdagangan. Tertarik oleh kekayaan yang melimpah yang dipersembahkan oleh daerah ini kepada raja Portugis, perusahaan British Est India, yang pada saat itu masih beroperasi di anak benua India, mulai meluaskan daerah perdagangannya ke Asia Tenggara. Segeralah muncul konflik kepentingan di antara ketiga kekuasaab kolonial: Inggris, Beanda, dan Portugis.

Dari sudut pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, konflik antara Inggrs dan Belanda sangat penting, karena konfrontasi antarakedua kekuasaan itu berakhir pada pembagian kawasan Kepulauan Nusantara menjadi dua, berdasarkan variasi bahasa Melayu yang dipergunakan di kawasan itu, yaitu bahasa Melayu Johor dan bahasa Melayu Riau.

Pada 2 Februari 1819, kuran lebih tiga abad setelah orang-orang Eropa tiba di Kepulauan Indonesia, Stamford Raffles, ketika dia menjadi Letnan Gubernur Jenderal di Bengkulu, atas nama pemerintah kolonial Inggris mendirikan kota Singapura pada salah satu pulau (Tumasik) yang bergabung dalamKepulauan FRiau. Setelah benteng Singapura ini didirikan, Inggris dan Belanda berada dalam konflik bersenjata terus-menerus karena berebut kepentingan. Segera setelah perang Napoleon di Eropa mereda, pada tahun 1824 ditandatangani persetujuan untuk mengakhiri konflik bersenjata antara Inggris dan Belanda di Asia Tenggara. Persetujuan itu terkenal dengan nama London Treaty of 1824 (Traktat London 1824) yang membagi kawasan Kepulauan Nusantara menjadi dua bagian: Kepulauan Indonesia berada di bawah pemerintahan Kolonial Belanda dan Semenanjung Malaya dan Singapura berada di bawah kekuasaan Kolonial Inggris. Dengan demikian, Kerajaan Riau dan Lingga menjadi bagian dai daerah pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, dan Kerajaan Johon dan sekitarnya menjadi bagian dari daerah pemerintahan Kolonial Inggris. Mulai saat itu pula, perpisahan bahasa Melatu Riau dan bahasa Melayu Johor secara legal terjadi.

Bahasa Melayu Riau yang merupakan bahasa ibu penduduk Kerajaan Riau dan Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, berkembang dan menyebar dengan sangat pesat, sesuai dengan keperluan masyarakat yang bersangkutan sebagai alat komunikasi lisan. Bahkan, sejak berlakuknya Persetujuan London atau TRaktat London, bahasa Melayu Riau mendapatkan status yang baik dalam kesusastraan dunia. Berbagai karya kesusastraan yang cukup tinggi nilainya yang ditulis oleh penutur asli bahasa Melayu Riau diterbitkan. Pada tahun 1857, misalnya, Raja Ali Haji menerbitkan bukunya yang berjudul Bustanul Katibin, sebuah buku tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau. Buku tatabahasa ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Kerajaan Riau dan Lingga, dan di Singapura. Pengarang-pengarang lain yang sezaman dengan Raja Ali Haji, misalnya, Raja Ali Tengku Kelana, Abu Muhammad Adnan, dan lain-lain, juga menerbitkan karya mereka.

Publikasi karya Raja Ali Haji dan pengarang lain dapat dianggap sebagai upaya awal dalam proses pembakuan bahasa Melayu Riau. Bahkan, pada permulaan abad ke-20 karya-karya ini dijadikan buku acuan oleh ahli-ahli bahasa Belanda. Bahasa Melayu Riau yang sedang berkembang pesat dan tumbuh dengan sehat ini oleh banyak ahli bahasa disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi.

Perkembangan Bahasa Melayu Sebelum Traktat London

Sesudah Traktat London ditandatangani antara pemerintah Inggris dan Belanda, pemisahan antara Bahasa Melayu versi Riau dan Johor semakin nyata. Bahasa Melayu versi Johor di Semenanjung Malaya dan Singapura berkembang, tetapi tidak sepesat perkembangan versi bahasa Melayu Riau di Kepulauan Nusantara.

Bahasa Melayu Riau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri-sendiri. Di samping itu, bahasa Melayu yang sejak dulu menjadi lingua franca meningkat statusnya menjadi bahasa yang memiliki norma supra-etnik dikuasai oleh hampir semua orang yang suka berlayar atau bepergian ke mana-mana.

Beberapa peristiwa penting menyangkut perkembangan bahasa Melayu Riau dapat diungkapkan di bawah ini.

1. Tahun 1865 bahasa Melayu Riau diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua mendampingi bahasa Belanda. Pranan ke-lingua franca-an bahasa Melayu semakin nyata dan penting.

2. Tahun 1901 Charles van Ophuijsen menerbitkan bukunya yang berjudul Kitab logat Melajoe: Wondenlijst voor de Spelling der Maleische Taal yang berisi sistem ejaan bahasa Melayu mempergunakan huruf Latin yang bersifat fonemis. Sebelumnya bahasa Melayu Riau mempergunakan huruf Arab (baiasa diistilahkan huruf Jawi) yang bersifat silabik sebagai sistem ejaan. Sistem ejaan van Ophuijsen dengan huruf Latin dianggap lebih sesuai dengan bahasa Melayu.

3. Tahun 1918 bahasa Melayu mulai dipergunakan di dalam sidang-sidang Volksraad (Dewan Rakyat). Dengan demikian status bahasa Melayu meningkat menjadi bahasa supraetnik melebihi bahasa-bahasa daerah lainnya.

4. Tahun 1920 bahasa Melayu menjadi bahasa Balai Pustaka. Semua buku hasil penerbitan Balai Pusataka mempergunakan bahasa Melayu. Penyebaran bahasa Melayu ke pelosok Nusantara semakin intensif. Semua sekolah dasar di desa-desa mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Di samping itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa para pejuang kemerdekaan Indonesia.

5. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu dijadikan oleh para peserta Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan yang tertuang pada butir ketiga Soempah Pemoeda yang diikrarkannya.

6. Pada tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga Baroe sekelompok pegarang yang menerbitkan berbagai majalah dan buku.

7. Pada tahun 1938 Kongres bahasa Melayu (Indonesia) di Solo. Kongres ini meletakkan dasar-dasar tentang pemakaian istilah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu lagi.

8. Tahun 1942 – 1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu menjadi satu-satunya bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan.

9. Pada tanggal 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh dunia dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pasal … ayat … UUD 1945 memuat bahwa “Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan resmi negara.” Sejak itu bahasa Indonesia menjadi bahasa Angkatan ‘45.

10. Tahun 1954 Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh utusan dari Semenanjung Malaya dan Singapura.

11. Tahun 1972 antara Republik Indonesia dan Negara Malaysia tercapai persetujuan di bidang kebudayaan. Masalah bahasa termasuk di dalamnya. Terbentuklah Majelis Bahasa Indonesia dan Malaysia (MABIM).

12. Pada tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan pemberlakuan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) di Indonesia dan di Malaysia. Kenyataan ini menjadikan bahasa Melayu sebagai norma supra-nasional.

13. Pada tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakukan tatacara pembentukan istilah di Indonesia dan Malaysia. Hal ini semakin memperkuat MABIM sehingga Nagara Brunai Darussalam dan Republik Singapura tertarik untuk bergabung di dalam majelis bahasa ini.

14. Kongres Bahasa Indonesia III dan seterusnya diselenggarakan secara teratur setiap lima tahun. Kongres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 menghasilkan berbagai keputusan yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, bahasa resmi, maupu sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

15. Kerja sama kebahasaan antara Negara Kesatuan Republik Indonesia, Negara Malaysia, Negara Brunei Darussalam, dan Republik Singapura semakin kokoh. Keadaan ini akan mengantar bahasa Melayu menjadi bahasa komunikasi luas di kawasan Asia Tenggara untuk selanjutnya diharapkan menjadi salah satu bahasa dunia di dalam abad ke-21.

Perkembangan bahasa Melayu versi Johor di Semenanjung Melaya dan Singapura tidak sepesat dengan perkembangan bahasa Melayu versi Riau di Kepulauan Nusantara. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya politik bahasa yang dianut oleh Inggris. Pemerintah Kolonial Inggris mengakui adanya empat bahasa resmi, yaitu bahasa Melayu, bahasa Mandarin, bahasa Tamil, dan bahasa Inggris. Keempat bahasa itu dipergunakan sebagai bahasa pengantar pada lembaga-lembaga pendidikan. Umumnya, bahasa Inggris paling dominan dipergunakan sebagai bahasa pengantar.

Keadaan kebahasaan seperti digambarkan di atas berlangsung sampai dengan terbentuknya Negara Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1956. Peristiwa ini kemudian disusul dengan terbentuknya Negara Malaysia, yang mencakup Serawak dan Sabah (North Borneo), yang merdeka dan berdaulat, lepas dari kekuasaan Inggris. Setelah kemerdekaan dicapai, bahasa Melayu di negara tersebut mulai memerankan fungsinya sebagai bahasa resmi, bahasa negara, bahasa nasional, dan mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sampai saat ini bahasa Melayu, baik yang sekarang menjadi bahasa Indonesia di Indonesia, bahasa Melayu di Malaysia, bahasa … di Brunai, dan bahasa … di Singapura, tetap berkembang dan menjalankan fungsinya sebagai alat komunikasi secara efektif. Bahkan, secara de facto telah berperan sebagai bahasa komunikasi luas di Asia Tenggara. Yang diperlukan adalah pengakuan dari internasional (lewat PBB) bahwa bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa yang layak dipakai sebagai bahasa komunikasi internasional atau dunia. Apabila harapan ini tercapai, berarti secara de jure bahasa Melayu semakin mantap.

Pustaka Acuan

Abas, Husen. 1987. Indonesian As a Unifying Language of Wider Communication: a Historical and Sociolinguistic Perspectives.Canberra: Research School of Pasific Studies, ANU.

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1974. “Language Policy, Language Engineering and Literacy in Indonesia and Malaysia”. Dalam Fiherman, ed. 1974: 179-187.

Fishamn, Joshuo A., ed. 1974. Advances in Language Planning. The Hague: Mouton.

Hamidy, U.U. 1973. Bahasa Melayu Riau: Sumbangan Bahasa Melayu Riau kepada Bahasa dan Bangsa Indonesia. Pekanbaru: Badan Pembina Kesenian Daerah Propinsi Riau.

Junus, Umar. 1969. Sedjarah dan Perkembangan Kearah Bahasa Indonesia dan Bangsa Indonesia. Djakarta: Bhratara.

Joyonegoro, Wardiman. 1995. “Pidato Pembukaan KIP BOPA III”. 28 Agustus 1995.


[*] Drs. Masnur Muslich, MSi. adalah dosen Universitas Negeri Malang – Indonesia. Kini (Juni – Desember 2006) diperbantukan di Faculty of Humanities and Social Sciences, Princes of Songkhla University (PSU), Campus Pattani,

DASAR-DASAR ANALISIS KALIMAT

PENGERTIAN
Secara tradisional kalimat didefinisikan sebagai urutan kata-kata yang mengandung maksud yang lengkap. Setelah timbul pendekatan struktural pada akhir abad XIX orang sadar bahwa kalimat harus ditinjau pula dari segi strukturnya jika ingin mendapat gambaran yang tepat. Berikut ini beberapa definisi tentang kalimat.

Menurut Fokker kalimat ialah tuturan atau ujaran yang mengandung arti, yang oleh lagunya ditandai sebagai kesatuan yang selesai. Intonasi final itulah yang menentukan bahwa kita berhadapan dengan kalimat atau bukan.
Menurut Gorys Keraf, kalimat adalah bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.

KESATUAN SINTAKSIS
Kata-kata di dalam kalimat ada yang menyendiri, ada yang berkelompok dengan kata lain. Masing-masing kelompok tersebut disebut kesatuan sintaksis. Jadi hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain tidaklah sama eratanya.
Kesatuan sintaksis itu ditentukan oleh permutasi atau pemindahan. Kata atau kelompok kata yang dapat dipindahkan tempatnya atanpa mengubah arti merupakan suatu kesatuan sintaksis. Kata atau kelompok kata tersebut disebut gatra. Jadi, gatra ialah kesatuan sintaksis di dalam kalimat yang dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti kalimat tersebut. Gatra-gatra tersebut disebut fungsi atau jabatannya. Fungsi-fungsi tersebut adalah subyek (S), predikat (P), dan keterangan (K). Gatra subyek dan gatra predikat dianggap sebagai gatra yang mutlak harus ada jika suatu ujaran mau disebut kalimat. Tetapi apabila sudah diketahui oleh kedua belah pihak yang berbicara, salah satu atau keduanya dapat juga tidak disebutkan.

Analisis Unsur Bawahan Langsung (UBL)
Untuk menentukan gatra-gatra dalam sebuah kalimat dapat dilakukan dengan teknik analisis unsur bawahan langsung (UBL). Prosedurnya sangat sederhana, yaitu dengan menganalisis unsur-unsur pembentuknya, yaitu unsur segmental (tidak bisa dianalisis lagi) dan unsur suprasegmental (masih bisa dianalisis lagi) seperti di bawah ini.
Kalimat yang akan dianalisis:
Ia sudah mengerjakan soal itu dengan sunggu-sungguh.
UBL I, kalimat tersebut dianalisis sebagai berikut
Ia
Sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh.
yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh.
UBL II, hasilnya adalah
Sudah mengerjakan soal itu
Dengan sungguh-sungguh
yang masih bisa dianalisis berikutnya ada dua, yaitu (a) sudah mengerjakan soal itu, dan (b) dengan sungguh-sungguh
UBL IIIa hasilnya adalah
sudah
mengerjakan soal itu
UBL IIIb hasilnya adalah
dengan
sungguh-sungguh
yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah mengerjakan soal itu.
UBL IV hasilnya adalah
mengerjakan
soal itu
yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah soal itu
UBL V hasilnya adalah
soal
itu
Jadi, hasil analisisnya sebagai berikut
Ia sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh.
Ia/ sudah mengerjakan soal itu / dengan sungguh-sungguh
Ia/ sudah/ mengerjakan soal itu/ dengan/ sungguh-sungguh
Ia/ sudah/ mengerjakan / soal / itu / dengan / sungguh-sungguh
(Sampai tingkat tertentu, analisis UBL dapat digunakan sebagai dasar penentuan gatra. Dalam contoh di atas, penggalan gatra sebagai berikut Ia/sudah/mengerjakan/soal itu/dengan sungguh-sungguh)

Subyek dan Predikat
Subyek didefinisikan sebagai d asar tuturan sedangkan predikat adalah apa yang dikatakan pembicara tentang subyek. Karena predikat menyatakan sesuatu tentang subyek, pastilah daerah lingkungannya lebih luas daripada subyek.

Keterangan
Keterangan dibedakan atas katerangan kalimat dan keterangan kata. Keterangan kalimat menerangkan seluruh kalimat dan merupakan gatra. Keterangan kalimat dapat dipindah-pindahkan, bebas. Keterangan kata tempatnya tidak bebas, terikat kepada kata atau kelomok kata yang diterangkan. Keterangan kata tidak merupakan gatra tersendiri.
Contoh :
Orang kaya itu pergi ke Jakarta
” ke Jakarta” pada kalimat di atas meruakan gatra keterangan kalimat, sedangkan
” kaya” pada ”orang kaya” hanya merupakan keterangan kata.

Klausa
Seperti telah dikatakan di atas, subek dan predikat menurut pendekaan tradisional merupakan gatra yang wajib dan mutlak. Konstruksi subyek-predikat (S-P) itu disebut klausa. Klausa berbeda dengana kalimat. Klausa hanyalah konstruksi S-P tanpa memperhatikan intonasi final, sedangkan kalimat mungkin hanya sebuah kata, kelompok kata, atau sebuah klausa yang mempunyai intonasi final. Sebuah klausa yang mendapat intonasi final merupakan sebuah kalimat, tetapi apabila intonasinya tidak final klausa hanya merupakan gatra atau bahkan keterangan pada sebuah gatra

Keterangan Kalimat
Di atas telah dikatakana bahwa keterangan kalimat menerangkan seluruh kalaimat. Hanya saja karena predikat merupakan gatra terpenting di dalam sebuah kalimat, keterangan kalimat pada praktiknya juga dapat dikatakan menerangkan predikat saja. Macam-macam keterangan kalimat
Keterangan waktu (temporal)
Yang dimaksud keterangan waktu adalah keterangan yang menyatakan waktu terjadinya peristiwa predikat
Contoh : Ia pulang kemarin
Keterangan tempat (lokatif)
Yanag dimaksud keterangan tempat adalah keterangan yang menyatakan tempat terjadinya peristiwa predikat.
Contoh : Ia pergi ke Surabaya.
Keterangan sebab (kausatif)
Yang dimaksud keterangan sebab adalah keterangan yang menyatakan sebab-sebab terjadinya peristiwa predikat.
Contoh : Ia dibenci orang karena kejahatannya.
Keterangan akibat (konsekutif)
Yang dimaksud keterangan akibat adalah keterangan yang menyatakan akibat peristiwa predikat.
Contoh : Ia berjalan jauh hingga lelah.
Keterangan tujuan (final)
Yang dimaksud keterangan tujuan adalah keterangan yang menyatakan tujuan peristiwa predikat.
Contoh : Ia pergi untuk membeli buku.
Keterangan modalitas/kesungguhan
Yang dimaksud keterangan modalitas/kesungguhan adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap isi kalimat yang diucapkannya.
Contoh : Ia barangkali sakit.
Ia pasti datang.
Keterangan kualitas
Yang dimaksud keterangan kualitatif adalah keterangan yang menyatakan kualitas peristiwa predikat.
Contoh : Ia berjalan lambat-lambat.
Keterangan kuantitas
Yang dimaksud keterangan kuantitas adalah keterangan yang menyatakan jumlah peristiwa predikat.
Contoh : Ia memukul dua kali.
Keterangan perlawanan/peralahan/konsesif
Yang dimaksud keterangan perlawanan/peralahan/konsesif adalah keterangan yang menyatakan sesuatu yang berlawanan dengan isi predikat.
Contoh : Ia ikut mendaki gunung meskipun sakit.
Keterangan kesertaan (komitatif)
Yang dimaksud keterangan komitatif adalah keterangan yang menyatakan orang yang ikut melangsungkan peristiwa predikat.
Contoh : Ia pergi ke Jakarta dengan Sidin.
Keterangan perbandingan
Yang dimnaksud keterangan perbandingan adalah keterangan yang membandingkan peristiwa atau hal predikat dengan peristiwa atau hal lain.
Contoh : Tangannya halus seperti tangan anak kecil.
Keterangan syarat
Yang dimaksud keterangan syarat adalah keterangan yang menyatakan syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya peristiwa predikat dapat berlangsung.
Contoh : Jika tidak hujan saa akan datang ke rumahmu.
Keterangan cara/keadaan
Yang dimaksud keterangan cara/keadaan adalah keterangan yang menyatakan dalam keadaan apa peristiwa predikat berlangsung.
Contoh : Ia berlari sambil menangis.
Keterangan alat
Yang dimaksud keterangan alat adalah keterangan yang menyatakan alat yang digunakan untuk melangsungkan peristiwa predikat.
Contoh : Ia menusuknya dengan pisau.
Keterangan perwatasan/pembatasan
Yang dimaksud keterangan perwatasan/pembatasan adalah keterangan yang membatasi peristiwa predikat.
Contoh : Semua murid naik kelas kecuali Sidin.
Keterangan derajat
Yang dimaksud keterangan derajat adalah keterangan yang menyatakan derajat atau tingkat peristiwa predikat.
Contoh : Ia hampir selesai.
Sebagai bahan perbandingan, berikut ini saya sampaikan pembagian jenis keterangan versi Gorys Keraf
Keterangan tempat (lokatif), yaitu yang menerangkan di mana suatu peristiwa berlangsung, biasanya dinyatakan oleh kelompok kata yang dirangkaikan dengan kata tugas di, ke, dari, dan pada.
Keterangan waktu (temporal), yaitu yanag menjelaskan bilamana suatu peristiwa berlangsung, biasanya dinyatakan dengan adverbia temporal seperti kemarin, sekarang, besok, dan lusa atau gabungan kata-kata ang menyatakan adverbial temporal seperti hari ini, tahun depan, dan minggu ini.
Keterangan alat (instrumental), yaitu yang menjelaskan dengan alat manakah perbuatan itu dilaksanakan. Biasanya keterangan ini dinyatakan dengan kata tugas dengan+kata benda laat.
Keterangan kesertaan (komitatif), yaitu keterangan yang menjelaskan keikutsertaan seseorang dalam suatu tindakan. Biasanya dinyatakan dengan frasa dengan + orang auatu bersama + orang.
Keterangan sebab (kausal), yaitu yang menjelaskan mengapa suatu perbuatan atau tindakan dilakukan. Keterangan ini biasanya dinyatakan oleh kata-kata tugas sebab, karena, dan oleh karena.
Keterangan akibat (konsekutif), yaitu ang menjelaskan hasil atau akibat yang terjadi karena suatu perbuatan. Keterangan ini biasanya dinyatakan oleh frasa yang didahului oleh kata-kata tugas sehingga, sampai, dan akibatnya.
Keterangan tujuan (final), yaitu yang menjelaskan hasil suatu perbuatan yang dengan sengaja dikehendaki atau ingin dicapai. Keterangan ini dinyatakan oleh frasa yang didahului oleh kata untuk, supaya, guna.
Keterangan pembenaran (konsesif), yaitu ang menjelaskan berlakunya suatu perbuatan berlawanan atau bertentangan dengan keadaan atau kehendak pembicara. Keterangan ini dinyatakan oleh frasa yang didahului oleh meskipun, biarpun, walaupun, sekalipun, sungguhpun.
Keterangan pembatasan, yaitu yang menjelaskan dalam batas-batas mana suatu perbuatan boleh dikerjakan dan mana yang tidak boleh. Keterangan ini biasanya dinyatakan dengan frasa yang didahului oleh kata tugas kecuali, selain.
Keterangan suasana, yaitu keterangan yang menjelaskan bagaimana atau dalam suasana mana suatu perbuatan dilaksanakan. Biasanya keterangan ini dinyatakan dengan sebuah frasa yang didahului oleh dengan + kata yang menyatakan suasana.
Keterangana kualitatif, yaitu keterangan yang menjelaskan dengan cara mana atau bagaimana suatu peristiwa dilaksanakan. Biasana keterangan ini dinyatakan dengan frasa dengan + kata sifat.
Keterangan kuantitatif, yaitu yang menjelaskan berapa kali suatu proses berlangsung.
Keterangan perbandingan, yaitu yang menjelaskan bagaimana suatu perbuatan dibandingkan dengan perbuatan yang lain. Kata-kata tugas yang biasa diakai untuk menyatakan keterangan ini adalah sama, sebagai, laksana, umpama.
Keterangan modalitas, yaitu keterangan yang menjelaskan bahwa suatu proses berlaku secara subyektif, yaitu seperti yang dikehendaki atau ditafsirkan oleh pembicara. Ada beberapa macam keterangan modalitas, yaitu
1) keterangan kondisional (syarat)
2) keterangan kepastian
3) keterangan kemungkinan (potensial)
4) keterangan keragu-raguan (dubitatif)
5) keterangan harapan (optatif)
6) keterangan keinginnan (desideratif)
7) keterangan ajakan (adhortatif)
Keterangan aspek, yaitu keterangan yang menjelaskan terjadinya suatu proses secara obyektif. Keterangan ini sering dikacaukan dengan dua hal lain yaitu keterangan waktu dan kala (tense). Keterangan waktu terbatas pada penunjukan waktu seperti kemarin, besok, dan lusa. Sebaliknya kala adalah kategori gramatikal katakata kerja yang menyatakan berlangsungnya suatu perbuatana dalam waktu tertentu. Beberapa keterangan aspek adalah
8) aspek inkoatif, yaitu ang menyatakan suatu peristiwa atau perbuatan mulai terjadi.
9) aspek kompletif atau persfektif, yaitu yang menjelaskan bahwa suatu peristiwa telah selesai atau telah berakhir.
10) Aspek inkonpletif atau duratif, yaitu ang menjelaskan bahwa suatu proses belum selesai atau masih berlangsung.
11) Aspek futuratif, yaitu yang menjelaskan bahwa suatu perbuatan akan terjadi.
12) Aspek repetitif, yaitu yang menjelaskan bahwa suatu proses terjadi sekali lagi.
13) Aspek frekuentatif, yaitu yang menjelaskan bahwa suatu perbuatan terjadi berulang-ulang.
14) Aspek spontanitas (serta merta) yaitu yang menjelaskan bahwa suatu proses terjadi dengan tidak disangka-sangka.

Obyek
Obyek sebenarnya bukan merupakan gatra tersendiri, melainkan merupakan keterangan/pelengkap penderita, tetapi ada beberapa macam obyek yang dapat dipindah-pindahkan tempatnya sehingga boleh dikatakan merupakan gatra tersendiri. Ada beberapa macam obyek, yaitu
obyek penderita
yaitu obyek yang dikenai peristiwa predikat. Apabila dipasifkan kata yang berfungsi sebagai obyek itu akan menduduki fungsi subyek.
Contoh : Ayah membeli kambing.
obyek pelaku
yaitu obyek yang menyebutkan pelaku peristiwa dalam kalimat pasif.
Contoh : Buku itu dibeli oleh Sidin.
obyek ber-kata depan
yaitu pelengkap predikat yang didahului sebuah kata depan.
Contoh : Ia tahu akan kewajibannya.
obyek semu (pelengkap)
yaitu bagian predikat yang tampaknya merupakan pelengkap tetapi hanya meruapakn suatu kesatuan dengan predikat itu.
Contoh : Ia berjualan kuda.
obyek langsung dan tak langsung
ada kalanya sebuah kata kerja memerlukan dua pelengkap. Ada yang langsung dikenai pekerjaan (disebut obyek langsung), ada yang secara tidak langsung (disebut obyek tidak langsung). Teeuw berpendapat bahwa obyek tak langsung termasuk predikat sehingga hanya ada satu obyek.
Contoh : Ayah membelikan adik sepasang sepatu.

JENIS KALIMAT
Pembagian kalimat
Berdasarkan jumlah inti yang membentuk sebuah kalimat
Kalimar minor, ialah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Kalimat mayor, ialah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Berdasarkan kontur (suatu bagian dari arus ujaran yan diapit oleh kesenyapan) yang ada pada sebuah kalimat
Kalimat minim, ialah kalimat yang hanya mengandung satu kontur.
Kalimat panjang, ialah kalimat yang mengandung dua kontur atau lebih
Berdasarkan pola dasar yang dimiliki kalimat
Kalimat inti, ialah kalimat yang memiliki ciri terdiri dari dua kata, berpola S-P, dan intonasinya netral.
Kalimat luas, ialah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata.
Kalimat transformasi, ialah kalimat inti yang sudah mengalami perubahan baik berupa penambahan kata maupun perbanyakan unsur inti.
Berdasarakan ragam kalimat
Kalimat aktif, yaitu kalimat yang subyeknya menjadi pelaku (agens) dari perbuatan yang menjadi predikat kalimat.
Kalimat pasif, yaitu kalimat yang subyeknya menjadi penderita (patiens) akibat perbuatan ang menjadi predikat kalimat.
Berdasarkan urutan kata.
kalimat normal, ialah kalimat yang subyeknya mendahului predikat.
kalimat inversi, ialah kalimat yang predikatnya mendahului subyek.
Berdasarkan tujuan dan sasaran yang akan dicapai
Kalimat berita
Kalimat tanya
Kalimat perintah
Kalimat harapan
Kalimat pengandaian.
Berdasarkan jumlah klausanya
Kalimat tunggal, ialah kalimat yang hanya terdiri dari sebuah klausa.
Kalimat majemuk, ialah kalimat ang terdiri dari dua klausa atau lebih.

Kalimat Majemuk
Yang dimaksud kalimat majemuk setara ialah kalimat majemuk yang klausa-klausanya sama tinggi kedudukannya.
Yang dimaksud kalimat majemuk bertingkat adalah sebuah kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki suatu gatra (salah satu gatranya berupa klausa). Klausa yang merupakan sebuah gatra dalam klausa lain disebut klausa anak. Klausa yang salah satu gatranya berupa sebuah klausa disebut klausa induk.
Ada tiga pedoman untuk membedakan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat, yaitu
letak kata penghubung
Pada kalimat majemuk setara kata penghubung selalu ada di antara klausa yang dihubungkan, sedanagkan pada kalimat majemuk bertingkat (kecuali dalam beberapa hal) posisinya dapat di antara kedua klausa yang dihubungkan, dapat pula pada awal kalimat.
Contoh : Sidin pergi ke Jakartaa tetapi adiknya tinggal di rumah. (setara)
Ia pergi ketika kita mengunginya. (bertingkat)
Ketika kita mengunjunginya, ia pergi. (bertingkat)
macam kata penghubung
Kata penghubung yang digunakan di dalam kalimat majemuk setara jumlahnya tidak banyak, antara lain dan, bahkan, lalu, atau, tetapi, hanya, jadi.
Kata penghubung yang digunakan dalam kalimat majemuk bertingkat antara lain ketika, sebelum, sesudah, sehingga.
lagu/intonasi
Pada kalimat majemuk setara lagu kalimat mempunyai dua puncak, jadi terbagi menjadi dua makrosegmen, sedangkan pada kalimat majemuk bertingkat intonasinya hanya mempunyai satu puncak. Dengan demikian lagu pada kalimat majemuk bertingkat sama seperti lagu pada kalimat tunggal.
Contoh : Uangnya banyak tetapi hidupnya tidak tenteram.
Meskipun uangnya banyak, hidupnya tidak tenteram.

Macam Kalimat Majemuk Setara
Menurut hubungan yang ada di antara klausa-klausa yang kedudukannya sederajat, kalimat majemuk setara dibedakan menjadi tiga, yaitu
kalimat majemuk setara yang klausa-klausanya disambung.
Kelompok ini dapat dibedakan lagi menjadi
- hubungan menyambung biasa (dan, sedang)
Ia pergi ke Jakarta dan adiknya tinggal di rumah
- hubungan menyambung menguatkan (bahkan)
Ia tidak mempunyai tempat tinggal bahkan pakaiannya hanya selembar.
- hubungan menyambung mengatur (lalu, kemudian)
Ia pergi ke Jakarta lalu keesokan harinya ia terbang ke Medan
Kalimat majemuk setara yang klausa-klausanya dipertentangkan.
Kelompok ini dapat dibedakan lagi menjadi
- mempertentangkan biasa (tetapi, namun)
Ia bodoh tetapi kakaknya pandai sekali.
- mempertentangkan mengganti (atau)
Engkau tinggal di rumah atau ikut pergi ke Jakarta?
- mempertentangkan mewatasi (hanya)
Semua murid naik kelas hanya si Ali yang harus tinggal setahun lagi.
Kalimat majemuk setara yang klausa-klausanya ada hubungan sebab-akibat (jadi, karena itu).
Ia belajar dengan sungguh-sungguh jadi nilainya bagus.

Macam Kalimat Majemuk Bertingkat
Seperti telah dikemukakan di atas dalam kalimat majemuk bertingkat klausa anak menjadi bagian dari klausa induk dan menduduki salah satu gatra atau sebagai bagian dari salah satu gatra.
Kalimat majemuk bertingkat dibedakan berdasarkan klausa anaknya.
KMB dengan klausa anak subyektif (pengganti subyek)
Contoh : Bahwa saudaranya sudah datang dari Jakartaa belum diketahuinya.
KMB dengan klausa anak predikatif (pengganti predikat)
Contoh : Pohon itu tingginya sepuluh meter.
KMB dengan klausa anak menduduki fungsi obyek penderita
Contoh : Ia menyangka bahwa musuh telah mengundurkan diri.
KMB dengan klausa anak menduduki fungsi obyek ber-kata depan
Contoh : Ia tidak tahu bahwa sahabatnya telah meninggal dunia.
KMB dengan klausa anak menduduki fungsi obyek semu
Contoh : Ia berpendapat bahwa kendnaraan itu baik sekali.
KMB dengan klaua anak menduduki gatra keterangan waktu
Contoh : Ia masih kecil ketika keluarganya pindah ke Bandung.
KMB dengan klausa anak menjadi gatra keterangan sebab.
Contoh : Ia dibenci tetangganya karena kelakuannya kurang baik.
KMB dengan klausa anak menjadi gatra keterangan tujuan
Contoh : Ia belajar sungguh-sungguh supaya nilainya bagus.
KMB dengan klausa anak menjadi gatra keterangan perlawanan
Contoh : Meskipun hidupnya sederhana, ia berbahagia.
KMB dengan klausa anak menjadi gatra keterangan syarat
Contoh : Jika hari tidak hujan, ia akan datang.
KMB dengan klausa anak menjadi gatra keterangan kata
Contoh : Orang yang timpang kakinya itu komandan saya.

3.12.2009

RAGAM PUISI

MACAM-MACAM PUISI
Untuk melengkapi pengertian kita tentang puisi, perlu kiranya di bahas bermacam-macam puisi yang kita kenal. Seringkali penyair memberikan judul puisi dengan nama jenis puisi yang di ciptakan itu dan kita salah menafsirkan makna judul itu karena belum memahami konsepnya.
W.H Hudson menyatakan adanya puisi subyektif dan puisi obyektif (1959:96). Cleanth Brooks menyebut adanya puisi naratif dan puisi deskriptif (1975:335-356). David Daiches menyebut adanya puisi fisik,platonic, dan metafisik (1948:145). X.J. Kennedy menyebut adanya puisi konkret dan balada (1971:116-226). Dalam kumpulan puisi Rendra, kita mengenal judul-judul: balada, romansa, stanza, serenada, dan sebagainya. Ada juga parable atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi auditorium juga sering kita jumpai.

2.1. Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.
2.1.1 Puisi Naratif.
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair (berisi cerita).
Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut “orang-orang tercinta”. Kumpulan baladanya: Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.
Romansa adalah jenis puisi ceritya yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam “Empat Kumpulan Sajak”nya berjudul “Romansa” dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul “Romance Perjalanan”. Kisah cinta ini dapat juga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H. Priangan Si Jelita. Periode 1953-1961 banyak di tulis jenis romansa ini.

2.1.2 Puisi Lirik.
Dalam puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak bercerita. Jenis puisi lirik misalnya:elegi, ode, dan serenada.
Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya “Elegi Jakarta” karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta.
Serenada adalah sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata “serenada” berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya “Serenada Hitam”, “Serenada Biru”, “Serenada Merah Jambu”,”Serenada Ungu”, “Serenada Kelabu”, dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, kecewa, dan sebagainya.
Ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Yang banyak di tulis adalah pemujaan tehadap tokoh-tokoh yang dikagumi. “Teratai” (Sanusi Pane), “Diponegoro” (Chairil Anwar), dan “Ode Buat Proklamator” (Leon Agusta) merupakan contoh ode yang bagus. Berikut ini kutipan Ode Buat Proklamator, sebuah ode yang memuja tokoh proklamator: Bung Karno dan Bung Hatta.

Ode buat Proklamator
Bertahun setelah kepergiannya kurindukan dia kembali
Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkan sebuah negeri; dalam Lumpur dan lumut,
Dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi; yang senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi; menguak kabut gulita mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian
Dengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu!
Mereka memancang tiang bendera, merobah nama dan peta, berjaga membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku. Lalu dia meniup terompet dengan selaksa
Nada kebangkitan sukma.

Kini kita ikut membubuhkan nama di atas bengkalainya; meruntuhkan sambil mencari,
daftar mimpi membelit bulan perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti
kata berpasir di bibir pantai hitam dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap di laut biru derap suara yang gempita cuma bertahan atau menerkam
Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali bersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali
Tak mengelak dalam bercumbu, biar berbisa perih dirabu
Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya yang pudar
Bagi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garuda.
( Hukla, 1979)

Dalam puisi ini, dapat diungkapkan rasa kagum penyair kepada sang proklamator. Ungkapan-ungkapan rasa kagum itu sangat mengena dan tidak bersifat klise. Kerinduan penyair untuk mendengarkan bara semangat yang ditiupkan lewat pidato-pidato yang berapi-api, dapat kita hayati sejak enam baris terakhir.

2.1.3 Puisi Deskriptif.
Di depan telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/ peristiwa, benda, atau suasana yang di pandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat di klasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya: puisi satire, kritik social, da puisi-puisi impresionitik. Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. Kritik social adalah puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan/orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

2.2. Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi Hukla karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangkaian suara). Puisi kamar ialah puisi yang cocok di baca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar. Sedangkan puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang.
Sajak-sajak Leon Agusta banyak yang dimaksudkan untuk sajak auditorium. Puisi-puisi Rendra kebanyakan adalah puisi auditorium yang baru memperlihatkan keindahannya setelah suaranya terdenagr lewat pembacaan secara keras. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.

2.3. Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal
Pembagian puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam puisi itu. Puisi fisikal bersifat realistis artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan adalah merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, puisi yang bersifat impresionistis, dan juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal.
Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah “cinta platonis” yang berarti cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau cita-cita dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik. Puisi-puisi religius juga dapat dikategorikan puisi platonis. Demikian juga puisi yang mengungkapkan cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya kiranya dapat dinyatakan sebagai puisi platonik.
Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius di satu pihak dapat dinyatakan sebagai puisi platonik (menggambarkan ide atau gagasan penyair) di lain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (mengajak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan). Karya-karya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair Dagang, Syair perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi metefisikal. Kasidah-kasidah karya Barzanji dan Tasawuf karya Rumi kiranya dapt diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.

2.4. Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif
Puisi subyektif juga disebut puisi personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang di tulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian juga puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca.
Puisi obyektif berarti puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa yang subyektif.

2.5. Puisi Konkret
Puisi konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1970-an. X.J. Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut pandang (poems for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi, kaligrafi, idoegramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian kat lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda baca dan haruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar ujud fisik yang “kasat mata” lebih dipentingkan daripada makna yang ingin disampaikan. Contoh dalam bahasa Inggris, misalnya karya Joyce Klimer berikut ini:
t
ttt
rrrrr
rrrrrrr
eeeeeeeee
???
Kata yang hendak dinyatakan dalam puisi ini hanyalah “tree”; namun karena membentuk gambar pohon Natal, maka pembaca mengetahui bahwa yang dimaksud penyair adalah pohon Natal. Karya Sutardji banyak sekali yang dapat diklasifikasikan sebagai puisi konkret. Kemudian diikuti oleh penyair-penyair yang lebih muda. Puisi konkret ada yang berbentuk segitiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, bulat telur, spindle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.

2.6. Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis
Puisi diafan ataupuisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figurative, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat mudah dihayati maknanya. Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi,dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk fisik untuk mengungkapkan makna. Dengan demikian penyair tersebut tidak memiliki kepekaan yang tepat dalm takarannya untuk lambing, kiasan, majas, dan sebagainya. Jika puisinya terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka puisi itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaic dan terlalu cerlang sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.
Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragamitu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair besar seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi daari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap.

2.7. Puisi Parnasian dan Puisi Inspiratif
Parnasian adalah sekelompok penyair Perancis pada pertengahan akhir abad 19 yang menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Puisi-puisi yang ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi parnasian. Puisi-puisi Rendra dalam Potret Pembangunan dalam Puisi yang banyak berlatar belakang teori ekonomi dan sosiologi dapaat diklasifikasikan sebagai puisi parnasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat dengan pertimbangan keilmuan.
Puisi inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat ke dalam puisi itu. Dengan “mood”, puisiyang diciptakan akan memiliki tenaga gaib, mempunyai kekuatan untuk memikat perhatian pembaca. Puisi inspiratif biasanya tidak sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk menafsirkan. Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar adalah contoh puisi inspiratif. Puisi prosaic seperti karya penyair-penyair tahun 1970-an di bawah ini, termasuk puisi yang menggunakan bahasa panarsian.
Karena Jajang
Tuhan
Saya minta duit
Buat beli sugus
Karena Jajang
Lagi doyan sugus

2.8. Stansa
Jenis puisi yang bernama stanza kita jumpai dalam Empat Kumpulan Sajak karya Rendra. Stanza artinya puisi yang terdiri atas 8 baris. Stanza berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam stanza seluruh puisi itu hanya terdiri atas 8 baris. Berikut ini dikutip contoh stanza yang penulis tulis sekitar tahun 1969.

Malam Kelabu
Ada angin menerpa jendela
Ada langit berwarna kelabu
Hujan titik satu-Saturday menatap cakrawala malam jauh
Masih adakah kuncup-kuncup mekar
Atau semua telah layu
Kelu dalam seribu janji
Kelam dalam penantian.
(Herwa,1969)

2.9. Puisi Demonstrasi dan Pamflet
Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar sekitar tahun 1966. menurut Subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi domonstrasi 1966 bersifat kekitaan, artinya melukiskan perasaan kelompok bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka adlah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyakkita jumpai. Sementara itu, kata-kata yang membakar semangat kelompok banyak dipergunakan, seperti: kebenaran, keadilan, kemanusiaan, tirani, kebatilan, dan sebagainya. Di bawah ini dikemukakan salah satu contoh:
Mimbar
Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi
Sejarah kemanusiaan
Pengembangan teknologi
Tanpa ketakutan.

Di kampus ini
Telah dipahatkan
Kemerdekaan.

Segala despot dan tirani
Tidak bisa dirobohkan
Mimbar kami.
(Taufiq Ismail,1966)
Seperti halnya puisi pamflet, puisi-puisi demonstrasi merupakan ungkapan sepihak, sehingga kebenaran sulit diterima secara obyektif. Pihak yang dibela diberikan tempat dan kedudukan yang terhormat dan serba benar, sedang pihak yang dikritik dilukiskan berada dalam posisi yang kurang simpatik.
Puisi pamflet juga mengungkapkan protes social. Disebut puisi pamfl;et karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya mengungkapkan rasa tidak puas kepada keadaan. Munculnya kata-kata yang berisi protes secara spontan tanpa proses pemikiran atau perenungan yang mendalam. Istilah-istilah gagah untuk membela kelompoknya disertai dengan istilah tidak simpatik yang memojokkan pihak yang dikritik. Seperti halnya puisi demonstrasi, bahasa puisi pamflet juga bersifat prosaic.
Rendra adalah tokoh puisi pamflet. Di depan telah di berikan salah satu contoh puisi pamflet Rendra yang berjudul “Sajak Burung Kondor”. Kata-kata :cukong dan kondom dinyatakan bersama dengan kata-kata penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan rakyat kecil yang dibela. Dalam puisi-puisi pamflet banyak kita jumpai kata-kata tabu yang diungkapkan penyair untuk menunjukkan kedongkolan hati penyair kepada pihak yang dikritik atau terhadap keadaan yang tidak memuaskan dirinya.
Puisi pamflet Rendra kehilangan makna konotatif, suatu kehebatan Rendra dalam menciptakan puisi pada tahun 50-an. Kata-kata kasar, ungkapan-ungkapan langsung ke sasaran, dan hiperbola yang bertujuan memojokkan pihak yang dikritikbanyak kita jumpai dalam puisi-puisi pamflet Rendra. Puisi-puisi pamflet Rendra inimengingatkan kita akan puisi-puisi Jerman pada awal industrialisasi di sana. Puisi-puisi pamflet Rendra kebetulan merupakan reaksi terhadap industrialisasi yang berkembang pesat sekitar tahun 1974 (seperti halnya puisi pamflet Jerman). Berikut ini dikutip salah satu puisi pamflet Rendra:
Sajak Sebatang Lisong
Menghirup sebatang lisong,
Melihat Indonesia Raya,
Mendengar 130 juta rakyat,
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang,
Berak di atas kepala mereka.
…………………………………..
delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalanpanjang,
tanpa pilihan,
tanpa pohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
……………………………………
menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit:
Para teknokrat berkata:
Bahwa bangsa kita adalah malas,
Bahwa bangsa mesti dibanguin,
Mesti di-up-grade,
Disesuaikan dengan teknologi yang diimport.
…………………………………………………….
Bunga-bunga bangsa tahun depan
Berkunang-kunang pandang matanya,
Di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapa
Menjadi gembalau suara kacau,
Menjadi karang di bawah muka samodra.
Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keuar ke jalan raya,
Keluar ke desa-desa,
Mencatat sendiri semua gejala,
Dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamflet masa darurat,
Apakah artinya kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.

2.10. Alegori
Puisi sering-sering menguingkapkan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah arable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak kita jumpai dongeng-dongengperumpamaan yang maknanya dapat kitacari di balik yang tersurat. Puisi “Teratai” karya Sanusi Pane boleh dikatakan sebagai alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberikan nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan “teratai” itu. Cerita berbingkai seperti “Panca Tantra”, “1001 Malam”, “Bayan Budiman”, dan “Hikayat Bachtiar” juga dapat diklasifikasikan sebagai parable.

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perasaan dalam puisi adalah perasaan yang disampaikan penyair melalui puisinya. Puisi mengungkapkan perasaan yang beraneka ragam. Mungkin perasaan sedih, terharu, benci, rindu, cinta, kagum, bahagia, ataupun perasaan setia kawan. Tema puisi yang sama yang dilukiskan dengan perasaan yang berbeda akan menghasilkan puisi yang berbeda pula. Ada bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair Indonesia. Banyak diantaranya dijadikan judul puisi. Pengertian tentang jenis puisi itu akan membantu pembaca menafsirkan maksud yang hendak dikemukakan penyair. Dalam makalah ini di jelaskan jenis puisi, diantaranya: puisi naratif, lirik, deskriptif, puisi kamar, puisi auditorium, puisi fisikal, platonic dan metafisikal, puisi obyektif dan subyektif, puisi konkret, puisi diafan, gelap, dan prismatis, puisi parnasian dan inspiratif, stanza, puisi demonstrasi, pamflet, dan alegori atau parable.

3.2 Saran
Mereka-mereka yang baru belajar mencoba menulis puisi sebaiknya mengetahui terlebih dahulu jenis puisi yang ditulisnya. Untuk menambah pemahaman tentang puisi, sebaiknya mempelajari terlebih dahulu bagian-bagian puisi secara mendetail termasuk macam-macamnya. Agar puisi yang di tulis lebih mudah untuk diklasifikasikan dan ditafsirkan maknanya.

DAFTAR PUSTAKA
Waluyo, Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Surakarta: Gramedia.
Aminuddin. 1998. Pengantar Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Sinar Baru.
Wiyanto, Asul. 2000. Kesusastraan Sekolah. Jakarta: Grasindo.

Pengertian Puisi

PUISI: DEFINISI DAN UNSUR-UNSURNYA



1. Pengertian

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.

(1) Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.

(2) Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.

(3) Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

(4) Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).

(5) Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.

Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.



2. Unsur-unsur Puisi

Berikut ini merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi.

(1) Richards (dalam Tarigan, 1986) mengatakan bahwa unsur puisi terdiri dari (1) hakikat puisi yang melipuiti tema (sense), rasa (feeling), amanat (intention), nada (tone), serta (2) metode puisi yang meliputi diksi, imajeri, kata nyata, majas, ritme, dan rima.

(2) Waluyo (1987) yang mengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.

(3) Altenberg dan Lewis (dalam Badrun, 1989:6), meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi, namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) sifat puisi, (2) bahasa puisi: diksi, imajeri, bahasa kiasan, sarana retorika, (3) bentuk: nilai bunyi, verifikasi, bentuk, dan makna, (4) isi: narasi, emosi, dan tema.

(4) Dick Hartoko (dalam Waluyo, 1987:27) menyebut adanya unsur penting dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi.

(5) Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi (1) diksi, (2) imajeri, (3) bahasa kiasan, (4) simbol, (5) bunyi, (6) ritme, (7) bentuk (Badrun, 1989:6).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi (1) tema, (2) nada, (3) rasa, (4) amanat, (5) diksi, (6) imaji, (7) bahasa figuratif, (8) kata konkret, (9) ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). Djojosuroto (2004:35) menggambarkan sebagai berikut.

Gambar 1. Puisi sebagai struktur

Berdasarkan pendapat Richards, Siswanto dan Roekhan (1991:55-65) menjelaskan unsur-unsur puisi sebagai berikut.



2.1 Struktur Fisik Puisi

Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.

(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)

(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.

(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.



2.2 Struktur Batin Puisi

Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut.

(1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

(2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

(3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

(4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

1.20.2009

Kesempatan Kedua


Jan 3, '09 1:31 PM
by Fairus for everyone

Aku duduk tidak jauh darinya. Sekitar dua atau tiga meja saja. Awalnya aku tidak begitu yakin, apakah benar dia? Penampilannya, setelah tiga tahun lalu, sangat berbeda.
Tapi aku dapat melihatnya dengan jelas. Melihatnya memutar gelas dengan tangan kanannya, lalu merapikan taplak meja yang berkerut setelahnya, lalu menggaruk hidungnya, lalu merapikan poninya, dan sebentar-sebentar menatap keluar jendela.
Jelas sekali, dia sedang gugup. Entah menunggu siapa?

Ingin sekali beranjak dari kursiku, dan menghampirinya. Duduk di sebelahnya. Dan menatap matanya dari jarak yang dekat, mencoba mencari sesuatu yang sempat hilang. Tapi keinginan itu aku tepiskan jauh-jauh, karena dia sedang menunggu seseorang. Bisa saja kekasihnya, atau mungkin suaminya.
Jadi biar saja aku menyaksikan kegugupannya dari jarak dua-tiga meja.

Namanya Agis, syukurlah aku masih mengingat namanya. Seorang perempuan yang pernah tergila-gila padaku. Mungkin aku yang terlalu percaya diri, atau tidak terlalu percaya pada inner beauty yang terpancar dari seorang perempuan, khususnya Agis.

Dia gendut. Dan rambutnya keriting, atau lebih tepatnya keribo, atau campuran keduanya (jika dua jenis rambut itu memiliki perbedaan arti), atau aku akan memakai kata "kusut" untuk mendeskripsikan rambutnya.
Rambut Agis berwarna hitam, dan bentuknya keriting-keribo-kusut, seperti tidak pernah disisir.

Dan dia gendut, apakah tadi sudah disebutkan? Ya, gendut. Tapi mungkin berat badannya belum terhitung sebagai obesitas, tapi dia gendut. (Sudah tiga kali aku menyebutkan kata gendut, itu artinya dia sangat gendut). Perempuan bertubuh besar yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Terlalu banyak lemak yang menempel di tubuhnya, sampai-sampai tidak pernah terpikir olehku untuk menyebutnya cantik. Agis, jauh dari kata cantik.

Belum lagi busana yang ia kenakan. Uh, old fashion. Kemeja bahan flanel dengan motif kotak beraneka warna, lalu celana bahan hitam, atau terkadang ia mengenakan celana cordoray cokelat tua. Dan aku rasa, semua pakaiannya dijahit sendiri, sebab ukurannya tidaklah tersedia di mal.

Aku mengenalnya sejak di bangku kuliah, yang berakhir tiga tahun lalu. Tapi tidak benar-benar mengenalnya. Hanya mengetahui keberadaannya di kelasku. Siapa yang tidak menyadari makhluk sebesar dia duduk di bangku paling depan? Menghalangi pandangan ke dosen dan tentu saja, ke layar infocus.
Agis memang salah satu mahasiswi pintar di kelas. IP-nya selalu berkisar antara 3,75 sampai 4,00. Dia sering terlihat di perpustakaan, membaca, lalu keluar dari sana dengan membawa setumpuk buku pinjaman.

Isi tasnya hanya ada buku, dan banyak cemilan. Dan sepertinya tidak ada bedak, atau lipstick, karena dia selalu tampil tanpa makeup. Hanya kacamata minus tiga yang menempel di wajahnya.

Aku tahu tentang perasaan cintanya padaku sejak dia terlihat gugup ketika berjabat tangan denganku. Lalu senyumnya gugup saat membalas senyumku. Atau langkahnya limbung ketika berpapasan denganku. Wajahnya merona merah tiap kali aku memandang secara tidak sengaja ke arahnya. Kemudian, banyaknya titipan salam darinya, untukku, melalui teman-teman sekelas.
Dan yang membuatku benar-benar yakin, saat dia dengan senang hati membantuku mengerjakan tugas-tugas kuliah. Bukan bermaksud untuk memanfaatkan, tapi itu adalah keinginannya sendiri.

Lalu akhirnya dia menyatakan cintanya padaku. Selembar kertas merah muda tergeletak dengan manis di atas meja kecil, tempatku yang biasa.
Aku membukanya perlahan, dan sangat hati-hati.

Dear Joe,

Napasku langsung tercekat membaca sapaan di surat itu. Dan sebelum aku membaca isinya, aku melirik ke baris paling bawah.

With Love,
Agis

Entahlah, mungkin aku adalah lelaki bodoh, atau pria angkuh. Sama saja bagiku.
Aku tidak membaca surat itu. Aku langsung menghampiri Agis dan mengembalikan suratnya dalam kondisi hancur lebur. Aku robek kertas pink itu kecil-kecil.

"Sudah dibaca, Joe?" tanya Agis setelahnya.
"Maaf tidak ada waktu," sahutku sambil berlalu.
"Kenapa?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada sendu.
Aku berbalik, lalu aku ucapkan apa yang tidak ingin aku ucapkan, hanya kata-kata kasar yang kemudian aku sesali. "Karena kamu gendut, Gis. Tipikal cewek yang kusuka, adalah wanita-wanita cantik. Kamu ngerti kan wanita cantik seperti apa? Yang jelas tidak seperti kamu. Paling tidak ngaca dulu, sehari tiga kali. Biar kamu sadar kalau kamu tidak pantas berdekatan denganku, apalagi berpacaran. Perbaiki dulu bentuk badanmu, Gis!"

Berjalan cepat meninggalkan kelas yang mulai terdengar riuh rendahnya, diiringi isak tangis Agis. Sejak itu, tidak ada lagi cerita tentang si pemilik tubuh tambun.
Aku menghilang. Dan kurasa, dia pun menghilang.

***

Di kafe ini, aku melihatnya lagi. Pertama kali sejak tiga tahun lalu. Dan dia sungguh berbeda.
Tidak lagi berkemeja flanel, ataupun bercelana cordoray. Tidak lagi dengan rambut keriting-keribo-kusutnya itu. Tidak lagi berkacamata. Dan tidak lagi tanpa makeup.

Agis cantik. Ia memakai gaun merah muda. Rambutnya lurus digerai sampai bahu. Makeupnya sungguh natural, membuatnya terlihat bagai bunga chamomile.
Agis cantik. Dia sungguh pantas mendapat kesempatan kedua dariku.

Aku menarik napas dalam-dalam, bersiap, dan memberanikan diri menghampirinya yang masih terlihat gugup. Namun, langkahku terhenti seketika. Melihat senyum di wajah Agis yang merekah. Si chamomile dihampiri oleh seekor kupu-kupu gendut.
Entah siapa dia?

Sambil berdiri, aku memperhatikan dengan seksama.
Kupu-kupu gendut mengucap maaf karena terlambat. Lalu dia mengeluarkan sebuah cincin. Chamomile tersenyum bahagia. Kupu-kupu gendut melingkarkan cincin itu di jari manis chamomile. Mereka berdua berdiri, dan saling merengkuh satu sama lain. Seperti tidak ingin dipisahkan.

Tanpa sadar aku berdeham, "Hai, Agis," sapaku. "Masih ingat, aku Joe."
"Hai Joe," sapa Agis. "Apa kabar?" dia menjabat tanganku, kali ini tidak gugup.
"Baik," suaraku tercekat.
Kami bertiga saling pandang, "Ini Arya, calon suamiku, Joe," kata Agis memecah hening.
Aku pun berjabat tangan dengan Arya, si kupu-kupu gendut milik si chamomile.
"Dia Joe, teman kuliahku," katanya pada Arya.
"Dan aku akan menikah dengan pria yang dapat menerimaku apa adanya," bisik Agis entah pada siapa.
"Datang ya, Joe, ke acara penikahan kami," katanya lagi padaku. "Bawa juga pacarmu yang cantik itu."

Aku hanya tersenyum, mengangguk-angguk. Terlihat benar-benar bodoh.
Dan kesempatan kedua itu tidak pernah ada untuk diriku.

harmoni rintik hujan yang memantul di atap rumah




Jan 5, '09 10:17 AM
by Syamsul for everyone


biasanya aku tidak begitu suka sama hujan, jemuranku jadi tidak kering, jalanan menjadi becek. hujan mengurung orang-orang yang tidak punya payung, membubarkan aktivitas luar ruangan, memaksanya meringkuk dalam ruangan

tapi, hujan kali ini lain, aku bisa melihat senyum mengembang dari seorang anak kecil, tukang ojek payung yang membawa payung yang berukuran lebih besar dari tubuhnya, lucu, angin kencang bahkan terkesan bisa menerbangkan tubuhnya

hujan kali ini berbeda, meski sama-sama hanya menjatuhkan uap air yang mulai jenuh yang disimpan awan, ia menyelipkan juga sedikit rasa gembira

saat ini, rambutku basah, bajuku pun lepek, dari atas hingga bawah, ujung jemariku mulai mengkerut, dingin. aku berlari menerobos hujan, eh, mungkin bukan berlari, tapi setengah menari

hujan kali ini membawa nuansa yang berbeda, ketika engkau sudah berani mengatakan cinta, aku bisa mengingat tiap kata cinta yang kau ucapkan, di tengah kerumunan orang, di depan keramaian, engkau berani nyatakan cinta, ih, aneh, kamu sangat berani sekali bilang cinta

aku bahkan tidak berkata apa-apa, ketika kamu menyatakan, "aku terima nikahnya cinta binti cinta", ups, salah nama, itu namaku deng yang kau sebut, tapi begitulah aku mendengarnya, aku tidak berkata apa-apa, karena kamu bilang cinta untukku kepada bapakku, aneh, tapi aku senang, unik, tapi menurutnya sangat keren

kali ini, aku bisa menikmati tiap butiran air yang menetesi tubuhku, sambil mengingat-ingat moment itu, mengingat ulang, harmoni rintikan hujan, yang mengetuk-ketuk genting rumah-ku, merdu, indah, syahdu, akad nikah yang dihiasi hujan, di pagi yang temaram... indah berhias hujan

hujan cinta.., maksa sih, tapi aku suka sebutan itu, di hari ini aku bermandikan hujan, sambil mengingat-ingat bahwa di hari itu, aku bermandikan hujan cinta, tidak basah dan tidak dingin, tidak terlihat dan tidak teraba, namun sangat terasa sampai ke dalam dada, bahkan sampai hari ini...

gaza

gazaJan 10, '09 11:29 AM
by apandi for everyone

israel, Tuhan tak mati

dikerakusanmu itu

Tuhan, gaza di tanganMu

setan-setan sudah berserakkan
membunuh kemanusiaan
memperkasa kebiadapan
menunjuk kekuasaan
memperalat dan memperbodoh orang-orang
yang gila kuasa
uang
hartabenda dan dunia

Tuhan, Kau menayangkan
alpa dan lupa dosa
rakus kuasa dan dunia
- membinasa

gaza


Jan 11, '09 1:15 PM
by apandi for everyone

gaza, deritamu bukan siksaNya

matimu surga
hidupmu dan sabarmu pahala

Dia punya rencana
memporak-peranda tipudaya dan dusta
darahmu takkan tumpah sia-sia

damai dan sejahtera itu bukan di senjata
di kuasa

senjata dan kuasa
adalah alat bodoh dan hina
menguasa dunia dan manusia

gaza, deritamu menyinar cahaya
diyakin dan dipercaya pada kekuasaanNya

gaza 13



Jan 13, '09 12:14 PM
by apandi for everyone

gaza, hatiku turut terluka

tak daya kutahan air mata

sakitnya hati
pedih sekali,
kenapa begitu tega menyiksa???

gaza,
gaza,
betapa aku tak berdaya
tak berdaya

kurasa hina
kurasa hina

gaza, air mata sudah tak bermakna
menghampa
mengecewa
meluka

dan kata-kata sudah tak berguna,
hanya senjata
hanya senjata
lawannya

mereka buas kita ganas

lemah - kita kalah
kalah - kita rebah

gaza, mari gagah
walau sudah banyak darah yang tumpah

Tak terKalah?kan


Jan 14, '09 4:44 AM
by carrot for everyone

kalau memang kami membantai mereka

lalu kalian mau apa?

kalau memang kami melanggar perjanjian

lalu kalian bisa apa?

hanya bisa memaki dan mencaci

melawan kami yang sedikit ini pun

kalian tidak berani

bisa apa kalian?

kalau kalian mau boikot

lalu kalian makan apa?

mau telanjang bulat?

mau gaptek?

ga bisa internetan?

ga bisa sms-an?

ga bisa bepergian?

sekalian aja kalian buang tivi kalian

bakar bioskop-bioskop kalian

kalian memang tak bisa apa-apa

kecuali berharap Shalahuddin terlahir lagi

kecuali berdoa Tuhan kalian mengamini

kecuali terus mempersalahkan kami

bawa ke sini Shalahuddin!!!

bawa ke sini Tuhan kalian!!!

dan Mereka pun akan kami kalahkan!!!