SInFxi132i2PsxWFwcRqNCOpmr8 Andra's Communitiy: RAGAM PUISI

3.12.2009

RAGAM PUISI

MACAM-MACAM PUISI
Untuk melengkapi pengertian kita tentang puisi, perlu kiranya di bahas bermacam-macam puisi yang kita kenal. Seringkali penyair memberikan judul puisi dengan nama jenis puisi yang di ciptakan itu dan kita salah menafsirkan makna judul itu karena belum memahami konsepnya.
W.H Hudson menyatakan adanya puisi subyektif dan puisi obyektif (1959:96). Cleanth Brooks menyebut adanya puisi naratif dan puisi deskriptif (1975:335-356). David Daiches menyebut adanya puisi fisik,platonic, dan metafisik (1948:145). X.J. Kennedy menyebut adanya puisi konkret dan balada (1971:116-226). Dalam kumpulan puisi Rendra, kita mengenal judul-judul: balada, romansa, stanza, serenada, dan sebagainya. Ada juga parable atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi auditorium juga sering kita jumpai.

2.1. Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.
2.1.1 Puisi Naratif.
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair (berisi cerita).
Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut “orang-orang tercinta”. Kumpulan baladanya: Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.
Romansa adalah jenis puisi ceritya yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam “Empat Kumpulan Sajak”nya berjudul “Romansa” dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul “Romance Perjalanan”. Kisah cinta ini dapat juga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H. Priangan Si Jelita. Periode 1953-1961 banyak di tulis jenis romansa ini.

2.1.2 Puisi Lirik.
Dalam puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak bercerita. Jenis puisi lirik misalnya:elegi, ode, dan serenada.
Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya “Elegi Jakarta” karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta.
Serenada adalah sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata “serenada” berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya “Serenada Hitam”, “Serenada Biru”, “Serenada Merah Jambu”,”Serenada Ungu”, “Serenada Kelabu”, dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, kecewa, dan sebagainya.
Ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Yang banyak di tulis adalah pemujaan tehadap tokoh-tokoh yang dikagumi. “Teratai” (Sanusi Pane), “Diponegoro” (Chairil Anwar), dan “Ode Buat Proklamator” (Leon Agusta) merupakan contoh ode yang bagus. Berikut ini kutipan Ode Buat Proklamator, sebuah ode yang memuja tokoh proklamator: Bung Karno dan Bung Hatta.

Ode buat Proklamator
Bertahun setelah kepergiannya kurindukan dia kembali
Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkan sebuah negeri; dalam Lumpur dan lumut,
Dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi; yang senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi; menguak kabut gulita mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian
Dengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu!
Mereka memancang tiang bendera, merobah nama dan peta, berjaga membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku. Lalu dia meniup terompet dengan selaksa
Nada kebangkitan sukma.

Kini kita ikut membubuhkan nama di atas bengkalainya; meruntuhkan sambil mencari,
daftar mimpi membelit bulan perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti
kata berpasir di bibir pantai hitam dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap di laut biru derap suara yang gempita cuma bertahan atau menerkam
Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali bersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali
Tak mengelak dalam bercumbu, biar berbisa perih dirabu
Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya yang pudar
Bagi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garuda.
( Hukla, 1979)

Dalam puisi ini, dapat diungkapkan rasa kagum penyair kepada sang proklamator. Ungkapan-ungkapan rasa kagum itu sangat mengena dan tidak bersifat klise. Kerinduan penyair untuk mendengarkan bara semangat yang ditiupkan lewat pidato-pidato yang berapi-api, dapat kita hayati sejak enam baris terakhir.

2.1.3 Puisi Deskriptif.
Di depan telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/ peristiwa, benda, atau suasana yang di pandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat di klasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya: puisi satire, kritik social, da puisi-puisi impresionitik. Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. Kritik social adalah puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan/orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

2.2. Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi Hukla karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangkaian suara). Puisi kamar ialah puisi yang cocok di baca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar. Sedangkan puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang.
Sajak-sajak Leon Agusta banyak yang dimaksudkan untuk sajak auditorium. Puisi-puisi Rendra kebanyakan adalah puisi auditorium yang baru memperlihatkan keindahannya setelah suaranya terdenagr lewat pembacaan secara keras. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.

2.3. Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal
Pembagian puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam puisi itu. Puisi fisikal bersifat realistis artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan adalah merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, puisi yang bersifat impresionistis, dan juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal.
Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah “cinta platonis” yang berarti cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau cita-cita dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik. Puisi-puisi religius juga dapat dikategorikan puisi platonis. Demikian juga puisi yang mengungkapkan cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya kiranya dapat dinyatakan sebagai puisi platonik.
Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius di satu pihak dapat dinyatakan sebagai puisi platonik (menggambarkan ide atau gagasan penyair) di lain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (mengajak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan). Karya-karya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair Dagang, Syair perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi metefisikal. Kasidah-kasidah karya Barzanji dan Tasawuf karya Rumi kiranya dapt diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.

2.4. Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif
Puisi subyektif juga disebut puisi personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang di tulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian juga puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca.
Puisi obyektif berarti puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa yang subyektif.

2.5. Puisi Konkret
Puisi konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1970-an. X.J. Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut pandang (poems for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi, kaligrafi, idoegramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian kat lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda baca dan haruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar ujud fisik yang “kasat mata” lebih dipentingkan daripada makna yang ingin disampaikan. Contoh dalam bahasa Inggris, misalnya karya Joyce Klimer berikut ini:
t
ttt
rrrrr
rrrrrrr
eeeeeeeee
???
Kata yang hendak dinyatakan dalam puisi ini hanyalah “tree”; namun karena membentuk gambar pohon Natal, maka pembaca mengetahui bahwa yang dimaksud penyair adalah pohon Natal. Karya Sutardji banyak sekali yang dapat diklasifikasikan sebagai puisi konkret. Kemudian diikuti oleh penyair-penyair yang lebih muda. Puisi konkret ada yang berbentuk segitiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, bulat telur, spindle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.

2.6. Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis
Puisi diafan ataupuisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figurative, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat mudah dihayati maknanya. Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi,dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk fisik untuk mengungkapkan makna. Dengan demikian penyair tersebut tidak memiliki kepekaan yang tepat dalm takarannya untuk lambing, kiasan, majas, dan sebagainya. Jika puisinya terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka puisi itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaic dan terlalu cerlang sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.
Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragamitu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair besar seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi daari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap.

2.7. Puisi Parnasian dan Puisi Inspiratif
Parnasian adalah sekelompok penyair Perancis pada pertengahan akhir abad 19 yang menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Puisi-puisi yang ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi parnasian. Puisi-puisi Rendra dalam Potret Pembangunan dalam Puisi yang banyak berlatar belakang teori ekonomi dan sosiologi dapaat diklasifikasikan sebagai puisi parnasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat dengan pertimbangan keilmuan.
Puisi inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat ke dalam puisi itu. Dengan “mood”, puisiyang diciptakan akan memiliki tenaga gaib, mempunyai kekuatan untuk memikat perhatian pembaca. Puisi inspiratif biasanya tidak sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk menafsirkan. Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar adalah contoh puisi inspiratif. Puisi prosaic seperti karya penyair-penyair tahun 1970-an di bawah ini, termasuk puisi yang menggunakan bahasa panarsian.
Karena Jajang
Tuhan
Saya minta duit
Buat beli sugus
Karena Jajang
Lagi doyan sugus

2.8. Stansa
Jenis puisi yang bernama stanza kita jumpai dalam Empat Kumpulan Sajak karya Rendra. Stanza artinya puisi yang terdiri atas 8 baris. Stanza berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam stanza seluruh puisi itu hanya terdiri atas 8 baris. Berikut ini dikutip contoh stanza yang penulis tulis sekitar tahun 1969.

Malam Kelabu
Ada angin menerpa jendela
Ada langit berwarna kelabu
Hujan titik satu-Saturday menatap cakrawala malam jauh
Masih adakah kuncup-kuncup mekar
Atau semua telah layu
Kelu dalam seribu janji
Kelam dalam penantian.
(Herwa,1969)

2.9. Puisi Demonstrasi dan Pamflet
Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar sekitar tahun 1966. menurut Subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi domonstrasi 1966 bersifat kekitaan, artinya melukiskan perasaan kelompok bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka adlah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyakkita jumpai. Sementara itu, kata-kata yang membakar semangat kelompok banyak dipergunakan, seperti: kebenaran, keadilan, kemanusiaan, tirani, kebatilan, dan sebagainya. Di bawah ini dikemukakan salah satu contoh:
Mimbar
Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi
Sejarah kemanusiaan
Pengembangan teknologi
Tanpa ketakutan.

Di kampus ini
Telah dipahatkan
Kemerdekaan.

Segala despot dan tirani
Tidak bisa dirobohkan
Mimbar kami.
(Taufiq Ismail,1966)
Seperti halnya puisi pamflet, puisi-puisi demonstrasi merupakan ungkapan sepihak, sehingga kebenaran sulit diterima secara obyektif. Pihak yang dibela diberikan tempat dan kedudukan yang terhormat dan serba benar, sedang pihak yang dikritik dilukiskan berada dalam posisi yang kurang simpatik.
Puisi pamflet juga mengungkapkan protes social. Disebut puisi pamfl;et karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya mengungkapkan rasa tidak puas kepada keadaan. Munculnya kata-kata yang berisi protes secara spontan tanpa proses pemikiran atau perenungan yang mendalam. Istilah-istilah gagah untuk membela kelompoknya disertai dengan istilah tidak simpatik yang memojokkan pihak yang dikritik. Seperti halnya puisi demonstrasi, bahasa puisi pamflet juga bersifat prosaic.
Rendra adalah tokoh puisi pamflet. Di depan telah di berikan salah satu contoh puisi pamflet Rendra yang berjudul “Sajak Burung Kondor”. Kata-kata :cukong dan kondom dinyatakan bersama dengan kata-kata penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan rakyat kecil yang dibela. Dalam puisi-puisi pamflet banyak kita jumpai kata-kata tabu yang diungkapkan penyair untuk menunjukkan kedongkolan hati penyair kepada pihak yang dikritik atau terhadap keadaan yang tidak memuaskan dirinya.
Puisi pamflet Rendra kehilangan makna konotatif, suatu kehebatan Rendra dalam menciptakan puisi pada tahun 50-an. Kata-kata kasar, ungkapan-ungkapan langsung ke sasaran, dan hiperbola yang bertujuan memojokkan pihak yang dikritikbanyak kita jumpai dalam puisi-puisi pamflet Rendra. Puisi-puisi pamflet Rendra inimengingatkan kita akan puisi-puisi Jerman pada awal industrialisasi di sana. Puisi-puisi pamflet Rendra kebetulan merupakan reaksi terhadap industrialisasi yang berkembang pesat sekitar tahun 1974 (seperti halnya puisi pamflet Jerman). Berikut ini dikutip salah satu puisi pamflet Rendra:
Sajak Sebatang Lisong
Menghirup sebatang lisong,
Melihat Indonesia Raya,
Mendengar 130 juta rakyat,
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang,
Berak di atas kepala mereka.
…………………………………..
delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalanpanjang,
tanpa pilihan,
tanpa pohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
……………………………………
menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit:
Para teknokrat berkata:
Bahwa bangsa kita adalah malas,
Bahwa bangsa mesti dibanguin,
Mesti di-up-grade,
Disesuaikan dengan teknologi yang diimport.
…………………………………………………….
Bunga-bunga bangsa tahun depan
Berkunang-kunang pandang matanya,
Di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapa
Menjadi gembalau suara kacau,
Menjadi karang di bawah muka samodra.
Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keuar ke jalan raya,
Keluar ke desa-desa,
Mencatat sendiri semua gejala,
Dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamflet masa darurat,
Apakah artinya kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.

2.10. Alegori
Puisi sering-sering menguingkapkan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah arable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak kita jumpai dongeng-dongengperumpamaan yang maknanya dapat kitacari di balik yang tersurat. Puisi “Teratai” karya Sanusi Pane boleh dikatakan sebagai alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberikan nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan “teratai” itu. Cerita berbingkai seperti “Panca Tantra”, “1001 Malam”, “Bayan Budiman”, dan “Hikayat Bachtiar” juga dapat diklasifikasikan sebagai parable.

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perasaan dalam puisi adalah perasaan yang disampaikan penyair melalui puisinya. Puisi mengungkapkan perasaan yang beraneka ragam. Mungkin perasaan sedih, terharu, benci, rindu, cinta, kagum, bahagia, ataupun perasaan setia kawan. Tema puisi yang sama yang dilukiskan dengan perasaan yang berbeda akan menghasilkan puisi yang berbeda pula. Ada bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair Indonesia. Banyak diantaranya dijadikan judul puisi. Pengertian tentang jenis puisi itu akan membantu pembaca menafsirkan maksud yang hendak dikemukakan penyair. Dalam makalah ini di jelaskan jenis puisi, diantaranya: puisi naratif, lirik, deskriptif, puisi kamar, puisi auditorium, puisi fisikal, platonic dan metafisikal, puisi obyektif dan subyektif, puisi konkret, puisi diafan, gelap, dan prismatis, puisi parnasian dan inspiratif, stanza, puisi demonstrasi, pamflet, dan alegori atau parable.

3.2 Saran
Mereka-mereka yang baru belajar mencoba menulis puisi sebaiknya mengetahui terlebih dahulu jenis puisi yang ditulisnya. Untuk menambah pemahaman tentang puisi, sebaiknya mempelajari terlebih dahulu bagian-bagian puisi secara mendetail termasuk macam-macamnya. Agar puisi yang di tulis lebih mudah untuk diklasifikasikan dan ditafsirkan maknanya.

DAFTAR PUSTAKA
Waluyo, Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Surakarta: Gramedia.
Aminuddin. 1998. Pengantar Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Sinar Baru.
Wiyanto, Asul. 2000. Kesusastraan Sekolah. Jakarta: Grasindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar/Comment